Rupiah Menjadi Mata Uang Paling Sensitif di Asia Melawan Dolar AS
Dominasi dolar Amerika Serikat (AS) memicu pelemahan hampir seluruh mata uang di kawasan Asia. Meski demikian, penurunan nilai mata uang rupiah tercatat cenderung lebih dalam dan sangat rentan terhadap guncangan eksternal.
Dilansir dari Bloomberg Technoz, rupiah menjadi mata uang yang paling sensitif di kawasan Asia. Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (26/5/2026), mata uang Nusantara ini telah terdepresiasi sebesar 28,98 persen selama satu dekade terakhir.
Rupiah bergerak dari posisi Rp13.788 per dolar AS pada akhir 2015 menuju level Rp17.783 per dolar AS pada sesi perdagangan hari ini pukul 10:30 WIB. Penurunan tajam ini menempatkan rupiah di posisi terlemah ketiga di Asia.
Rupee India mencatatkan pelemahan paling besar di Asia yang mencapai 44,13 persen. Nilai rupee merosot dari INR 66.153 per dolar AS pada akhir 2015 menjadi INR 95.347 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Peso Filipina berada di urutan kedua dengan pelemahan sebesar 30,52 persen. Mata uang ini bergerak dari level PHP 47.170 per dolar AS pada akhir Desember 2015 menjadi PHP 61.565 per dolar AS hari ini.
Sementara itu, dong Vietnam mengalami depresiasi yang cenderung lebih kecil yaitu sebesar 16,76 persen. Dong Vietnam bergerak dari posisi VND 22.485 per dolar AS pada akhir Desember 2015 menjadi VND 26.353 per dolar AS pada hari ini.
Sebaliknya, hanya terdapat dua mata uang Asia yang relatif stabil dan justru menguat dalam satu dekade terakhir. Ringgit Malaysia tercatat menguat sebesar 7,59 persen, sedangkan dolar Singapura tumbuh sebesar 9,97 persen.
Pergerakan dong Vietnam dinilai lebih tertib dan volatilitasnya lebih terjaga dibandingkan rupiah karena depresiasinya berlangsung perlahan. Struktur ekonomi Vietnam juga lebih stabil berkat surplus perdagangan yang kuat dan masuknya investasi asing langsung.
Di sisi lain, kepanikan pasar di India relatif terkendali meski rupee melemah paling dalam. Hal ini ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang agresif, konsumsi domestik yang besar, serta proyeksi Bloomberg Survey yang memperkirakan ekonomi India tumbuh 7,1 persen pada kuartal I-2026.
Pergerakan ringgit Malaysia juga lebih mapan karena memiliki diversifikasi ekspor yang kuat seperti minyak, gas, LNG, minyak sawit, semikonduktor, hingga produk manufaktur teknologi. Malaysia mendapat tambahan devisa saat harga energi dunia melonjak.
Dolar Singapura mampu menjaga stabilitas berkat kredibilitas institusi dan kekuatannya sebagai hub finansial global. Faktor-faktor internal ini membuktikan bahwa struktur ekonomi masing-masing negara sangat menentukan dalam menghadapi tekanan eksternal.
Rupiah menjadi sangat sensitif karena Indonesia rentan secara struktur ekonomi yang bergantung pada dolar AS, impor energi, dan modal asing jangka pendek. Struktur ekspor Indonesia masih didominasi komoditas primer seperti batu bara, nikel, dan CPO.
Indonesia sebenarnya memiliki Produk Domestik BIdang (PDB) terbesar di ASEAN dengan cadangan devisa mencapai lebih dari US$148,2 miliar pada akhir kuartal I-2026. Namun, kinerja ekspor tersebut masih sangat bergantung pada siklus harga komoditas global.
Kondisi ini berbeda dengan Vietnam yang telah membangun basis ekspor manufaktur elektronik dan industri padat karya. Indonesia dinilai belum memiliki mesin ekspor bernilai tambah tinggi yang mampu memproduksi arus devisa stabil dalam jangka panjang.