Harga Pertamax Berpotensi Turun Menjadi Rp15.500 per Liter pada 1 Juli 2026

Share

30 June 2026 12:00

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom mengestimasikan harga bensin RON 92 nonsubsidi milik Pertamina, alias Pertamax, berpotensi turun menjadi Rp15.500/liter pada periode penyesuaian 1 Juli 2026, seiring dengan melandainya harga minyak mentah dunia yang saat ini di rentang US$69—US$72 per barel.

Kendati begitu, penurunan harga Pertamax berisiko terganjal oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sebab setiap pelemahan rupiah langsung menaikkan biaya impor BBM.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mencatat rerata harga Brent sepanjang tahun berjalan adalah US$87,9/barel dan rata-rata nilai tukar sepanjang tahun berjalan sebesar Rp17.195/US$.

Josua menghitung harga keekonomian Pertamax diprediksi sekitar Rp16.444/liter jika dihitung berdasarkan formulasi harga BBM nonsubsidi dan mengacu rata-rata realisasi harga minyak mentah dunia dan rupiah sepanjang tahun berjalan.

Akan tetapi, Josua menyatakan jika pemerintah dan PT Pertamina (Persero) lebih menimbang harga minyak terbaru di kisaran US$70/barel, ruang penurunan Pertamax terbuka hingga ke level Rp15.500/liter.

Baca Juga

“Dengan pendekatan sederhana, penurunan Brent dari sekitar US$87,9 ke kisaran US$72—US$75 per barel dapat menekan harga keekonomian Pertamax cukup besar, tetapi sebagian tertahan oleh rupiah yang melemah ke sekitar Rp18.000/US$,” kata Josua ketika dihubungi, Selasa (30/6/2026).

Dia memprediksi, dengan dinamika penurunan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, maka harga keekonomian Pertamax pada Juli 2026 bakal di kisaran Rp14.800—Rp15.300 per liter.

“Karena itu, jika ditanya harga Pertamax Rp16.250/liter sebaiknya turun ke level berapa, jawaban paling realistis adalah sekitar Rp15.500/liter,” tegas Josua.

Masuk Akal

Josua memandang harga Pertamax di level Rp15.500/liter pada Juli 2026 masih masuk akal secara ekonomi, sebab memberi ruang penyesuaian terhadap penurunan minyak, tetapi tetap berhati-hati terhadap risiko rupiah, biaya distribusi, dan kemungkinan harga minyak kembali naik.

Lebih lanjut, jika harga minyak mentah bertahan di bawah US$75/barel dan rupiah tidak melewati Rp18.000/US$, harga Pertamax bisa turun secara perlahan ke kisaran Rp15.250/liter.

“Sebaliknya, jika acuan yang dipakai masih rerata sepanjang tahun berjalan, penurunan sebaiknya sangat terbatas atau bahkan harga bisa ditahan dulu di Rp16.250 [per liter],” ujar Josua.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri medio bulan ini membeberkan harga bahan bakar minyak (BBM) RON 92 atau Pertamax 92 naik menjadi Rp16.250 per liter lantaran dinamika harga minyak global.

Simon menerangkan penyesuain harga BBM nonsubsidi juga dilakukan oleh operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta.

“Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional,” kata Simon dalam siaran pers, Kamis (11/6/2026) malam.

Simon menegaskan harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tidak mengalami penyesuaian, masing-masing ditahan sebesar Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.

“Di tengah tantangan global yang terus berkembang, Pertamina dengan dukungan penuh dari Pemerintah terus berkomitmen menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Simon.

Di sisi lain, Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyatakan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dievaluasi secara berkala setiap bulannya, dengan mempertimbangkan parameter keekonomian.

Akan tetapi, dia menegaskan penetapan harga tersebut tetap memperhatikan kebijakan yang diambil oleh pemerintah.

“Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” kata Roberth melalui keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).

Dia juga menekankan Pertamax merupakan BBM nonsubsidi yang harga jualnya mengikuti perkembangan pasar minyak global, sesuai formula yang berlaku.

Di sisi lain, Roberth mengungkapkan kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026 belum sepenuhnya mengikuti harga pasar, sebab penyesuaian yang dilakukan baru sekitar 50% dari selisih harga keekonomian.

Dia menyatakan penetapan harga Pertamax tersebut sudah mengacu mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“BBM nonsubsidi seperti Pertamax series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi”, ujar Roberth.

Roberth mengungkapkan ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan imbas perang yang sempat terjadi di Timur Tengah, pemerintah menahan harga BBM nonsubsisidi jenis Pertamax.

Dengan begitu, kenaikan harga Pertamax yang dilakukan pada Juni dilakukan mempertimbangkan fluktuasi harga pasar internasional.

Roberth juga menyatakan harga Pertamax tetap lebih kompetitif dibandingkan harga BBM RON 92 di negara-negara Asean.

Adapun, harga Brent untuk pengiriman September hari ini turun 0,5% menjadi US$73,56/barel pada pukul 09.53 di Singapura. Kontrak Agustus yang kurang aktif — yang berakhir pada hari Selasa — turun 0,8% menjadi US$72,57/barel.

Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 0,6% menjadi US$70,33/barel.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BBM ekonomi Pertamax Pertamina
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author