Pelemahan Kurs Yen Memicu Lonjakan Kasus Kebangkrutan Perusahaan Jepang
Pelemahan nilai tukar mata uang yen memicu lonjakan kasus kebangkrutan tertinggi bagi korporasi Jepang untuk paruh pertama tahun ini sejak 2022 akibat kian besarnya beban ekonomi dari kemerosotan kurs tersebut. Tren ini mempertebal urgensi bagi Bank Sentral Jepang (BOJ) untuk melanjutkan kenaikan suku bunga acuan guna mendongkrak nilai tukar. Sebanyak 45 perusahaan dilaporkan bangkrut sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 akibat depresiasi mata uang tersebut, berdasarkan laporan terbaru dari Tokyo Shoko Research pada hari Rabu (1/7) sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Angka kebangkrutan ini melonjak lebih dari 30 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. Data dari lembaga riset tersebut memperlihatkan gelombang kebangkrutan sangat terkonsentrasi di sektor perdagangan grosir (wholesale). Salah satu korporasi yang dinyatakan pailit pada Mei lalu adalah Merry Time Foods Co yang berbasis di Tokyo, sebuah perusahaan importir komoditas kepiting, udang, dan tuna dari Asia.
Kondisi ini dipicu oleh posisi yen yang masih ditransaksikan menembus level 162 per dolar AS pada perdagangan hari Kamis (2/7), yang menjadi posisi terlemahnya sejak tahun 1986. Kejatuhan nilai tukar ini melambungkan biaya impor sehingga menggerus margin keuntungan di berbagai sektor industri yang bergantung pada pasokan luar negeri.
Situasi tersebut diperparah oleh konflik di Timur Tengah yang menaikkan harga minyak mentah dan melonjakkan biaya operasional. Berdasarkan survei Organization for Small & Medium Enterprises and Regional Innovation, indeks harga pembelian bahan baku di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) meningkat tajam pada kuartal kedua. Manajer di Tokyo Shoko Research, Yoshihiro Sakata menjelaskan bahwa situasi ini memberikan tekanan yang masif bagi para pelaku usaha kecil yang memiliki keterbatasan ruang untuk membebankan kenaikan biaya operasional kepada konsumen.
"Pelemahan yen menjadi salah satu faktor pemicunya," ujar Yoshihiro Sakata, manajer di Tokyo Shoko Research. "Ketika dikombinasikan dengan inflasi dan kenaikan biaya tenaga kerja, hal ini menciptakan beban kumulatif yang sangat berat bagi dunia usaha." Tekanan bagi importir kecil juga dipicu oleh instrumen lindung nilai (hedging) valuta asing berupa produk derivatif opsi reverse knockout. Banyak produk lindung nilai terstruktur ini yang dijual oleh bank-bank regional kepada pelaku bisnis kecil di daerah.
Penasihat eksekutif di SBI FXTrade Co, Yuji Saito memaparkan bahwa masa berlaku proteksi tersebut otomatis berakhir ketika nilai tukar menembus level batasan (knockout) yang disepakati. Analis memperkirakan sisa level reverse knockout saat ini berada pada kisaran 163 hingga 170 yen per dolar AS. "Semakin lemah nilai tukar yen, semakin banyak importir yang terjebak masuk ke dalam struktur opsi yang kian berisiko," jelas Yuji Saito, penasihat eksekutif di SBI FXTrade Co.
"Begitu level knockout tersebut ditembus, mereka terpaksa membeli dolar di pasar spot. Hal ini menciptakan lingkaran setan (negative spiral) yang justru memberikan tekanan pelemahan yang lebih dalam lagi bagi mata uang yen." Ketika fungsi lindung nilai hilang, perusahaan terpaksa membeli dolar AS secara langsung di pasar spot atau masuk ke dalam kesepakatan baru yang jauh lebih mahal.
Risiko ini membayangi para pedagang grosir, ritel, serta produsen manufaktur yang memiliki kemampuan terbatas dalam menentukan harga jual produk.
"Jumlah kasus perusahaan yang terkena knockout bisa meningkat drastis jika yen terus melemah," pungkas Hiroyuki Machida, direktur penjualan komoditas dan forex Jepang di Australia & New Zealand Banking Group. "Situasi ini kian menjadi masalah serius bagi perusahaan-perusahaan yang tidak mampu membebankan kenaikan biaya operasional mereka ke pelanggan."