Pelemahan Rupiah Berpotensi Kerek Harga BBM Nonsubsidi Juni 2026
Kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi yang cukup signifikan diproyeksikan terjadi pada Juni 2026 akibat nilai tukar rupiah yang masih tertahan di atas level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Dilansir dari Bloomberg Technoz pada Senin (25/05/2026), lonjakan harga diperkirakan dapat mencapai rentang Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa pergerakan kurs rupiah dan harga minyak global menjadi penentu utama. Potensi kenaikan harga komoditas ini dinilai akan berjalan lebih cepat pada stasiun pengisian bahan bakar umum milik swasta.
"Saya kira estimasi kenaikan Rp1.500—2.000 per liter itu memang mungkin terjadi, tetapi lebih tepat ditempatkan sebagai skenario atas [upper bound], bukan skenario dasar yang paling mungkin saat ini," terang Yusuf saat dihubungi, Senin (25/05/2026).
Penjelasan mengenai formula pembentukan harga BBM nonsubsidi didasarkan pada harga minyak mentah atau minyak olahan global dalam denominasi dolar AS. Komponen tersebut kemudian dikonversi dengan kurs rupiah sebelum ditambah biaya distribusi, pajak, serta margin keuntungan.
Tekanan terhadap harga eceran tidak dapat dihindari setelah mata uang Garuda melemah tipis 0,01 persen ke posisi Rp17.710 per dolar AS pada pembukaan pasar spot, Senin pagi. Angka tersebut terus merosot hingga menyentuh Rp17.733 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB, di tengah penurunan harga minyak mentah Brent ke level 98 dolar AS per barel.
"Produk dengan oktan dan spesifikasi lebih tinggi seperti Pertamax Turbo atau Dex Series biasanya lebih sensitif dibandingkan dengan Pertamax [RON 92] biasa," tambah dia.
Yusuf menilai penyesuaian harga untuk Pertamax RON 92 kemungkinan berada pada angka moderat yaitu Rp800 hingga Rp1.200 per liter jika kurs bertahan di level Rp17.600 sampai Rp17.700. Kenaikan batas atas baru terjadi jika rupiah menembus Rp17.800 per dolar AS disertai langkah operator melakukan penyesuaian harga yang sempat tertahan.
"Untuk operator swasta seperti Shell, BP-AKR, atau Vivo, penyesuaian biasanya lebih cepat mengikuti formula pasar sehingga ruang kenaikannya relatif lebih besar. Untuk produk premium seperti Pertamax Turbo, Dex series, atau V-Power Diesel, kenaikan Rp1.500—2.000 memang jauh lebih realistis karena struktur biaya produknya lebih mahal dan sensitivitas terhadap kurs lebih tinggi," jelas dia.
Langkah penyesuaian secara bertahap diprediksi menjadi pilihan utama bagi pemerintah dan Pertamina untuk mengantisipasi pelebaran disparitas harga dengan Pertalite. Jika selisih harga terlalu besar, migrasi konsumen ke BBM bersubsidi dikhawatirkan memicu lonjakan kuota dan membebani APBN.
"Karena itu saya melihat pemerintah dan Pertamina kemungkinan akan memilih jalur penyesuaian bertahap ketimbang satu kali lonjakan [kenaikan harga] besar," ungkapnya.
Proyeksi serupa disampaikan oleh analis komoditas sekaligus founder Traderindo Wahyu Laksono yang melihat realisasi kenaikan harga eceran tetap tinggi akibat pembengkakan biaya import parity price minyak matang.
"Ketika kurs melonjak ke rentang Rp17.600—Rp17.700, biaya pengadaan atau import parity price per barel minyak matang otomatis membumbung tinggi saat dikonversi ke rupiah. Selisih kurs sekitar Rp1.000—Rp1.500 dari basis perhitungan normal saja sudah bisa mengerek harga eceran BBM non-subsidi di atas Rp1.500/liter," jelasnya.
Dampak ganda berpotensi menekan pasar jika harga minyak mentah dunia jenis Brent maupun WTI ikut bertahan pada level tinggi. Produk BBM dengan nilai oktan dan setana tinggi dengan komponen impor dominan menjadi varian yang paling rentan mengalami fluktuasi.
"Jenis di atas bisa mengalami penyesuaian di batas atas proyeksi tersebut, mendekati Rp2.000 atau lebih. Sementara itu, untuk Pertamax, penyesuaian minimal biasanya akan berada di kisaran Rp1.200—Rp1.500 per liter jika menggunakan hitungan keekonomian murni," jelasnya.