BPS Catat Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$ 0,09 Miliar

Share

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia membukukan surplus sebesar US$ 0,09 miliar pada April 2026. Pencapaian ini didorong oleh nilai ekspor yang menembus US$ 25,3 miliar, sementara nilai impor tercatat sebesar US$ 25,21 miliar pada bulan yang sama.

Kinerja perdagangan ini dilansir dari Bloomberg Technoz, yang memaparkan bahwa Amerika Serikat (AS) memimpin sebagai negara mitra yang menyumbang surplus paling signifikan bagi komoditas migas dan nonmigas nasional.

Secara keseluruhan, posisi tiga besar negara yang menjadi sumber surplus utama bagi Indonesia meliputi Amerika Serikat dengan nilai US$ 5,76 miliar, India sebesar US$ 4,410 miliar, dan Filipina yang mencapai US$ 2,93 miliar. Jika dirinci khusus untuk sektor nonmigas, Amerika Serikat menyumbang US$ 6,810 miliar, disusul India senilai US$ 4,44 miliar, dan Filipina sebesar US$ 2,77 miliar.

Sebaliknya, total akumulasi defisit neraca perdagangan terbesar bersumber dari China sebesar US$ 7,59 miliar, Australia senilai US$ 3,29 miliar, dan Singapura sebesar US$ 2,82 miliar. Penjelasan detail mengenai struktur defisit ini dipaparkan langsung oleh otoritas statistik dalam konferensi pers.

"Negara penyumbang defisit neraca perdagangan nonmigas adalah China sebesar US$8,03 miliar, Australia sebesar US$3,05 miliar, dan Argentina sebesar US$730 juta," kata Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6/2026).

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini menguraikan bahwa performa positif pada April 2026 ini sangat bergantung pada komoditas nonmigas yang menghasilkan surplus US$ 3,53 miliar. Sektor penopang utamanya mencakup komoditas besi dan baja, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewan nabati, sementara sektor migas defisit US$ 3,44 miliar.

"Komoditas penyumbang defisit pada komoditas migas yaitu minyak mentah, hasil minyak dan gas alam," tutur Pudji.

Secara kumulatif sepanjang periode Januari hingga April 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mencatatkan surplus total sebesar US$ 5,64 miliar. Keuntungan ini disokong penuh oleh surplus sektor nonmigas yang menembus US$ 14,16 miliar, yang mampu menutupi defisit di sektor migas sebesar US$ 8,52 miliar.

Komoditas nonmigas yang menggerakkan surplus sepanjang empat bulan pertama 2026 dipimpin lemak dan minyak hewan nabati senilai US$ 11,71 miliar, bahan bakar mineral US$ 8,34 miliar, besi dan baja US$ 5,71 miliar, nikel dan barang daripadanya US$ 4,26 miliar, serta alas kaki sebesar US$ 2,14 miliar.

Adapun sektor nonmigas yang mengalami defisit berkepanjangan adalah mesin dan peralatan mekanis sebesar US$ 9,87 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik US$ 4,95 miliar, plastik dan barang dari plastik US$ 2,80 miliar, serealia US$ 1,37 miliar, serta instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis senilai US$ 1,21 miliar.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author