MSCI Proyeksi Penurunan CPIN dan Ketidakpastian Saham GOTO di Agustus 2026
MSCI diperkirakan akan menurunkan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) ke indeks small cap pada peninjauan kuartalan Agustus 2026. Sementara itu, status saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) masih belum pasti. Analis Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin, mengatakan bahwa CPIN menjadi kandidat utama untuk migrasi ke indeks yang lebih rendah karena koreksi harga saham sebesar 22,5% sejak Mei 2026. "CPIN menjadi kandidat utama untuk migrasi ke indeks yang lebih rendah," ujar Wilbert dalam risetnya.
Penurunan tersebut terjadi karena kapitalisasi pasar CPIN setelah penyesuaian free float berada di bawah ambang batas indeks standar. Sementara GOTO telah memenuhi persyaratan likuiditas berdasarkan rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR), namun harga saham yang tetap di level minimum dan rendahnya ATVR pada Juli memberikan ruang bagi MSCI untuk mempertimbangkan aspek keterulangan bagi investor pasif.
Wilbert menambahkan bahwa penurunan CPIN ke indeks small cap berpotensi memicu arus keluar dana pasif sekitar Rp500 miliar atau setara dengan sekitar 150 juta saham. "Apabila GOTO juga dikeluarkan dari indeks MSCI, maka potensi tambahan arus keluar dana pasif diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun atau sekitar 20 miliar saham," kata Wilbert.
Mirae Sekuritas memprediksi dampak penurunan ini pada bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets relatif terbatas, dengan pengurangan sekitar 0,01 poin persentase jika hanya CPIN keluar, dan 0,03 poin persentase jika GOTO juga keluar. Selain itu, bobot Indonesia di MSCI Emerging Markets mulai stabil setelah sempat mencapai level terendah dalam satu dekade, berada di kisaran 0,5% pada Juli 2026, naik dari posisi terendah 0,4% pada Juni 2026.
Kenaikan ini dipicu oleh indeks MSCI Indonesia yang naik sebesar 12,5% secara month-to-date, sementara indeks MSCI Emerging Markets mengalami koreksi sekitar 4% pada periode yang sama. Arus keluar dana asing juga mulai mereda, dengan net sell asing menyusut menjadi Rp4,1 triliun secara month-to-date dibandingkan rata-rata Rp12,3 triliun per bulan pada semester I/2026. Wilbert juga menyatakan bahwa peluang pemulihan bobot Indonesia secara lebih signifikan bergantung pada pencabutan kebijakan freeze MSCI terkait penambahan konstituen dan migrasi ke indeks yang lebih tinggi, yang kemungkinan baru akan terlihat pada peninjauan November 2026.
Chief of Equity Strategist Trimegah Sekuritas Indonesia, Aldo Perkasa, meyakini Indonesia masih memiliki peluang mempertahankan posisi di emerging market sejalan dengan komitmen otoritas bursa untuk mendorong reformasi pasar saham.
"Indonesia masih berpeluang untuk mempertahankan posisi di Emerging Market sejalan dengan komitmen otoritas bursa untuk konsisten mendorong reformasi bursa saham Indonesia," kata Aldo dalam dialog dengan CNBC Indonesia. Aldo juga menambahkan bahwa Bank Indonesia dan The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun 2026, tergantung perkembangan inflasi. Riski penurunan kelas pasar Indonesia ke frontier market masih ada hingga November 2026, dengan potensi outflow dana asing mencapai Rp80 triliun jika penurunan ini terjadi, menurut Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Wilbert Arifin.
"Jika kita pindah ke frontier, maka kita berpindah dari kolam yang besar ke kolam yang kecil," ujar Wilbert, memperingatkan risiko dampak besar bagi pasar modal Indonesia.
Wilbert menjelaskan bahwa MSCI menuntut konsistensi dalam reformasi pasar modal, termasuk peningkatan free float dan transparansi kepemilikan saham, agar Indonesia tetap bertahan di kategori emerging market. Dalam konteks pasar saham domestik, analis Bahana Sekuritas, Raja Abdalla, mengungkapkan bahwa Indonesia telah masuk kategori 'Wallflowers Market', di mana bobotnya di MSCI Emerging Markets sangat kecil sehingga semakin sering diabaikan oleh investor global.
"Ketika penentu harga dari investor asing mulai mundur, basis investor domestik akan mengambil peran sebagai pembeli marginal sehingga perilaku pasar akan berubah dibanding sebelumnya," tulis Raja dalam risetnya. Raja merekomendasikan strategi investasi yang selektif dengan fokus pada saham yang memiliki pendapatan dalam dolar AS serta saham berkapitalisasi besar yang likuid dan memiliki basis investor kuat, seperti BBCA, ASII, dan TLKM.