MPR Gelar Goes to Campus ke-50 di Universitas Pertahanan

Share

Universitas Pertahanan menjadi tuan rumah penyelenggaraan acara MPR Goes to Campus ke-50 yang digelar oleh Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno pada Kamis (2/7/2026). Kegiatan ini secara khusus membahas isu strategis nasional terkait ketahanan energi sebagai bagian dari pertahanan negara.

Dilansir dari Detikcom, agenda ke-50 ini menjadi tonggak penting perjalanan program yang telah menjangkau berbagai daerah. Ketahanan energi juga ditegaskan sebagai amanat konstitusi yang sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

"Penyelenggaraan MPR Goes to Campus ke-50 di Universitas Pertahanan memiliki nilai makna yang sangat kuat. Ketahanan energi saat ini tidak lagi semata-mata persoalan ekonomi atau pasokan energi, tetapi telah menjadi bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, kampus ke-50 ini sangat tepat dilaksanakan di Universitas Pertahanan," ujar Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR.

Situasi geopolitik global terkini dinilai memberikan dampak besar terhadap sistem keamanan internasional dan sektor energi. Konflik di Timur Tengah menjadi contoh nyata terganggunya rantai pasok yang memicu lonjakan harga dan memengaruhi sektor ekonomi nasional.

"Ketika konflik terjadi di kawasan yang menjadi pemasok utama energi dunia, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor migas. Gangguan rantai pasok akan berimbas pada biaya produksi, inflasi, dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Inilah mengapa isu energi harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas sebagai isu strategis bangsa," kata Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR.

Langkah transisi energi yang dicanangkan pemerintah kemudian ditempatkan sebagai strategi penting dalam mewujudkan kemandirian bangsa. Pemanfataan energi baru terbarukan diharapkan mampu memangkas ketergantungan terhadap komoditas impor.

"Transisi energi dalam perspektif yang lebih luas adalah agenda kemandirian bangsa. Ketika kita mampu meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, memperkuat efisiensi energi, dan mengurangi ketergantungan impor, maka kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kuat," jelas Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR.

Melalui forum ini, kontribusi pemikiran dari civitas akademika dipandang memiliki nilai krusial bagi penyusunan kebijakan negara yang adaptif.

"Perjalanan MPR Goes to Campus hingga kampus ke-50 menunjukkan betapa besarnya kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan perspektif dan masukan bagi pengambilan kebijakan. Setiap kampus yang kami kunjungi menghadirkan gagasan-gagasan baru yang memperkaya pembahasan isu strategis nasional, termasuk mengenai energi," tambah Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR.

MPR selanjutnya berkomitmen memperluas jangkauan program ini ke wilayah perbatasan dan Indonesia Timur demi menyerap lebih banyak inovasi daerah.

"Kami berkomitmen melanjutkan perjalanan MPR Goes to Campus ke lebih banyak daerah, khususnya kawasan Indonesia Timur. Kami ingin memastikan bahwa gagasan, inovasi, dan kontribusi intelektual dari seluruh anak bangsa dapat menjadi bagian dari solusi bagi pembangunan Indonesia. Semangat kebangsaan dan kolaborasi harus dan akan terus hadir dari Sabang sampai Merauke," ujar Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR.

Penyelarasan antara sektor lingkungan, ekonomi, dan energi menjadi poin akhir yang ditekankan guna menyokong visi jangka panjang pembangunan nasional.

"Ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan bersama sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045," tegas Eddy Soeparno, Wakil Ketua MPR.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author