Militer AS Tembak Jatuh Rudal dan Drone Iran di Timur Tengah

Share

Pasukan militer Amerika Serikat (AS) berhasil mencegat serangkaian rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) milik Iran yang ditargetkan ke beberapa negara tetangga di Timur Tengah pada Selasa (2/6/2026). Gejolak terbaru ini menguji keraphan gencatan senjata di kawasan tersebut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa Iran meluncurkan beberapa rudal balistik tersebut ke sejumlah negara, termasuk Kuwait dan Bahrain. Sebagian rudal berhasil ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara AS dan Bahrain, sehingga tidak ada satu pun proyektil yang mengenai sasaran.

Selain rudal, gelombang serangan drone tambahan yang mencoba menyasar pangkalan militer Amerika di Kuwait juga berhasil dilumpuhkan. CENTCOM memastikan tidak ada personel maupun aset AS yang terluka atau rusak dalam peristiwa tersebut.

Sebagai tindakan balasan yang disebut murni untuk membela diri, militer AS langsung menggempur stasiun kendali darat militer Iran di Pulau Qeshm. Aksi saling serang ini mencuat setelah militer Israel mengintensifkan serangan terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon dalam beberapa hari terakhir.

Situasi ini memicu komunikasi telepon antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, kedua pemimpin memberikan keterangan berbeda mengenai apa yang telah disepakati, di mana Trump awalnya mengisyaratkan adanya gencatan senjata yang lebih luas daripada yang bersedia dinyatakan oleh Netanyahu.

Ketegangan di kawasan tetap tinggi setelah AS menyerang situs radar serta pusat komando dan kendali Iran pada akhir pekan lalu, yang kemudian dibalas oleh Korps Pengawal Republik Islam (IRGC) Iran dengan mencoba menargetkan pangkalan udara milik AS.

Selama berbulan-bulan, Trump terus menyatakan optimisme bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran sudah berada dalam jangkauan. Namun, tekad Israel untuk tetap menjalankan agenda militernya sendiri menunjukkan terbatasnya kendali Trump terhadap arah krisis tersebut.

Perbedaan pandangan antara AS dan Israel mengenai akhir dari konflik kini mengancam negosiasi yang rapuh dan telah berlangsung lama antara Washington dan Teheran, yang bersikeras bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan perdamaian.

Hingga saat ini, perhatian utama pasar minyak tetap tertuju pada Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang menampung sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas alam cair global. Harga minyak mentah Brent naik 1 persen menjadi US$97 per barel seiring munculnya kembali bentrokan di kawasan.

Meski Republik Islam itu pada Senin menyatakan bahwa pembicaraan melalui mediator telah ditangguhkan, Trump pada Selasa membantah bahwa negosiasi telah berhenti. Di sisi lain, Israel menegaskan bahwa serangannya terhadap Hizbullah merupakan bagian penting dari upaya menjaga keamanan Israel maupun kawasan secara keseluruhan.

Hubungan antara AS dan Israel yang memulai perang ini bersama-sama melalui serangan gabungan terhadap Iran pada akhir Februari kini menunjukkan tanda-tanda keretakan yang berpotensi mempersulit upaya Trump untuk mengakhiri konflik.

Para negosiator AS dan Iran saat ini masih bergulat dengan sejumlah isu krusial lainnya, termasuk kebebasan navigasi di Selat Hormuz, masa depan dana Iran yang dibekukan di luar negeri, serta cakupan pengaturan keamanan regional yang lebih luas.

Sementara itu, Iran mengecam semakin dalamnya invasi Israel ke Lebanon dan menyatakan dapat memperketat pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz, menutup Selat Bab el-Mandeb, serta melancarkan serangan langsung terhadap Israel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author