Raja Charles III Dikeritik Usai Mengubah Gelar Pelindung Agama

Share

Raja Charles III menuai kecaman dari para pengamat dan mantan rohaniwan kerajaan Inggris setelah dokumen resmi Sovereign Grant Annual Report mengganti deskripsi peran keagamaannya. Laporan keuangan tahunan Kerajaan Inggris tersebut tidak lagi menyantumkan frasa tradisional 'Defender of the Faith'.

Perubahan redaksi dalam laporan resmi yang dirilis pertengahan tahun ini menyebutkan bahwa Raja Charles III merupakan Gubernur Tertinggi Gereja Inggris yang melindungi ruang bagi keyakinan di dalam negara multimandiri. Langkah tersebut memicu perdebatan mengenai komitmen mahkota terhadap identitas Kristen.

Mantan kapelan Ratu Elizabeth II, Gavin Ashenden, menyampaikan kritik tajam terhadap perubahan frasa tersebut kepada media lokal.

"Meninggalkan umat Kristen," kata Gavin Ashenden, Mantan Kapelan Ratu Elizabeth II.

Gavin Ashenden menilai bahwa perubahan kalimat dalam dokumen resmi itu sama saja dengan tindakan melanggar janji mahkota.

"Meninggalkan sumpahnya sebagai 'Defender of the Faith'," ujar Gavin Ashenden, Mantan Kapelan Ratu Elizabeth II.

Pakar kerajaan Richard Fitzwilliams menjelaskan bahwa pilihan kata baru tersebut memicu kegemparan di kalangan publik Inggris. Menurut Richard Fitzwilliams, penyusun laporan seharusnya tetap mempertahankan gelar historis sebelum menambahkan kalimat tentang keberagaman agama.

"Telah menimbulkan kontroversi yang cukup besar," kata Richard Fitzwilliams, Pakar Kerajaan.

Richard Fitzwilliams juga memberikan penilaian kritis terhadap struktur bahasa yang digunakan dalam laporan Sovereign Grant tersebut.

"Siapa pun yang menulis 'melindungi ruang bagi Iman dalam bangsa multi-iman' tidak membawa kredit bagi bahasa Inggris karena frasa ini lemah dan woke," ujar Richard Fitzwilliams, Pakar Kerajaan.

Di sisi lain, penulis biografi kerajaan Christopher Andersen mengungkapkan bahwa sikap Raja Charles III sudah terlihat sejak lama. Christopher Andersen menyebut Sang Raja memiliki ketertarikan kuat terhadap berbagai ajaran agama sejak masa studinya di Universitas Cambridge pada dekade 1970-an.

"Raja saat ini sudah lama percaya bahwa tidak ada satu agama pun yang memiliki semua jawaban," kata Christopher Andersen, Penulis Biografi Kerajaan.

Christopher Andersen menambahkan bahwa Ratu Elizabeth II tetap teguh pada keyakinan Kristen meski menghormati agama lain. Ia menilai Raja Charles III mengambil pendekatan berbeda untuk merangkul seluruh elemen masyarakat.

"Dia juga tahu bahwa jika dia ingin memiliki pemerintahan yang inklusif, maka dia tidak bisa membiarkan non-Kristen berdiri di luar dalam kedinginan — dia harus mengizinkan umat Islam, Hindu, Yahudi, dan Buddha masuk ke dalam," ujar Christopher Andersen, Penulis Biografi Kerajaan.

Perubahan pandangan ini diperkirakan akan berlanjut ke generasi berikutnya. Christopher Andersen menyoroti momen ketika Pangeran William mendaftar di Eton College pada tahun 1995 dan bingung saat mengisi kolom agama.

"Generasi baru bangsawan tidak begitu yakin tentang bagaimana merespons seluruh urusan 'Defender of the Faith' ini," kata Christopher Andersen, Penulis Biografi Kerajaan.

Melihat gestur tersebut, Christopher Andersen memprediksi perubahan peran keagamaan kerajaan di masa depan saat Pangeran William naik takhta.

"Jika itu adalah indikasi, sangat jelas bahwa begitu mereka menjadi raja dan ratu, William dan Kate kemungkinan besar akan bergerak untuk menghapus peran Defender of the Faith secara keseluruhan," ujar Christopher Andersen, Penulis Biografi Kerajaan.

Sementara itu, penyiar kerajaan Ian Pelham Turner menilai perbedaan pendekatan di antara para anggota keluarga kerajaan. Ian Pelham Turner menyebut Raja Charles III sebagai pemikir mendalam dalam urusan agama.

"William tidak tertarik dengan gereja sementara Catherine adalah seorang Kristen yang gigih, terutama memperbarui keyakinannya baru-baru ini selama diagnosis kankernya," kata Ian Pelham Turner, Penyiar Kerajaan.

Meskipun rumusan dalam Sovereign Grant Annual Report berubah, gelar resmi 'Defender of the Faith' dan sumpah penobatan Raja Charles III secara konstitusional tetap tidak berubah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author