Menteri Keuangan Cek Penumpukan Ribuan Kontainer di Tanjung Priok

Share

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan kunjungan kerja ke PT Graha Segara di Kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, seperti dikutip dari Detik Finance. Langkah ini diambil guna mengidentifikasi hambatan logistik yang memicu penumpukan ribuan kontainer bahan baku industri.

Fasilitas Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) tersebut ditinjau langsung bersama Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budi Utama. Penumpukan arus barang ini sebelumnya telah memicu keluhan dari para pelaku usaha karena berpotensi mengganggu pasokan produksi.

Berdasarkan laporan yang diterima Menkeu, terdapat sekitar 3.000 dokumen terkait 3.100 kontainer yang tertahan di pelabuhan. Masalah dokumen dan logistik tersebut ditengarai menjadi pemicu utama meningkatnya waktu inap atau dwelling time barang impor.

"Jadi, saya ke sini hari ini untuk mengetahui dan menindaklanjuti informasi yang saya dapatkan mungkin beberapa hari lalu bahwa terjadi penumpukan di Tanjung Priok. Suratnya sampai 3.000 surat, dan itu berkaitan dengan kontainer sebanyak 3.100. Sebagian pengusaha sudah mengeluh ada gangguan suplai barang bahan baku dan sudah menaikkan dwelling time," kata Purbaya di Jakarta Utara, Sabtu (6/6/2026).

Upaya perbaikan operasional di lapangan dilaporkan mulai menunjukkan hasil positif. Jumlah tumpukan dokumen tercatat mengalami penurunan dari kisaran 3.000 menjadi 2.500 berkas, namun percepatan penyelesaian tetap diinstruksikan.

Pemerintah menargetkan antrean dokumen penyelesaian logistik dapat ditekan hingga kembali ke level normal. Lonjakan volume impor pada April 2026 diidentifikasi sebagai faktor utama yang memicu perlambatan proses pemeriksaan barang di pelabuhan.

"Tadi saya tanya masalahnya apa, ada beberapa masalah. Pertama, peningkatan jumlah barang masuk sehingga prosesnya lambat di sini. Kalau masalahnya itu saya minta untuk tambah personel lagi, jadi mereka harus kerja 24/7 sampai nanti jumlahnya turun sekitar 500 yang ada di sini," jelas Purbaya.

Guna mengatasi kekurangan sumber daya, kementerian bersiap melakukan mutasi personel dari wilayah lain. Langkah penambahan petugas akan diambil dari Surabaya, Medan, Semarang, hingga Banten demi menjaga stabilitas arus barang.

"Katanya begitu impor yang tinggi di bulan April. Jadi, kalau itu sih bagus tapi kita harus siap nggak boleh barangnya menumpuk sebanyak ini, kita maintain di level yang normal. Kalau kurang orang saya akan nambah orang disini, kalau kurang di Jakarta saya impor dari Surabaya, Medan, atau Semarang, Banten," terang Purbaya.

Pemeriksaan Fisik Kontainer dan Pengawasan AI

Dalam peninjauan tersebut, Menkeu memantau langsung proses pemeriksaan fisik barang impor yang masuk. Salah satu kontainer dibuka secara acak untuk memastikan kesesuaian isi muatan dengan dokumen yang dilaporkan oleh pihak importir.

Muatan yang diperiksa secara acak tersebut meliputi bahan baku kulit, komponen blender, matras karet, hingga marmer. Meski muatan terpantau sesuai, kementerian tetap akan memperketat pengawasan nilai barang guna mencegah manipulasi pelaporan.

"Saya nggak lihat satu-satu, tapi saya lihat ada bahan baku kulit, tapi nggak numpuk sih. Saya nggak tahu yang mana yang numpuk ya, tapi yang saya lihat tadi ada bahan baku kulit, onderdil blender, ada lagi matras karet, yang terakhir marmer. sejenis itu lah. Yang itu bukan menumpuk, saya nggak tahu itu yang numpuk apa nggak," bebernya.

Pemeriksaan nilai barang secara mendalam diintensifkan sebagai langkah preventif terhadap potensi praktik under invoicing. Di sisi lain, sistem pengawasan pelabuhan ke depan direncanakan bakal mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau AI.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author