Menteri Israel Serukan Eskalasi Militer di Lebanon

Share

Sejumlah menteri dalam Kabinet Keamanan Israel mendesak eskalasi militer agresif terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon dalam rapat yang digelar pada Senin (8/6) malam waktu setempat. Langkah penyerangan tersebut diserukan sebagai respons atas ketegangan yang kian meningkat di wilayah perbatasan kedua negara.

Gelombang konfrontasi bersenjata ini dilaporkan telah memicu dampak kemanusiaan yang besar. Dilansir dari Detikcom, rangkaian serangan udara Israel pascaaksi Hizbullah di Tel Aviv pada 2 Maret lalu telah menewaskan lebih dari 3.600 orang, melukai lebih dari 11.100 warga, serta memaksa lebih dari 1 juta penduduk mengungsi.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengusulkan tindakan ekstrem berupa pengeboman kota Beirut dan penangkapan warga sipil di Lebanon. Usulan agresif ini disampaikan dalam pertemuan kabinet berdasarkan laporan surat kabar Maariv via Anadolu Agency.

"Kita harus berpikir di luar kotak mengenai Hizbullah, dan kita juga harus mempertimbangkan pendudukan wilayah dan membunuh banyak teroris," cetus Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Ia mengklaim strategi penahanan tersebut merupakan langkah yang paling efektif untuk menekan kekuatan kelompok perlawanan di Lebanon.

"penangkapan perempuan-perempuan dan anak-anak" seru Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Pernyataan tersebut merujuk langsung pada target yang dianggapnya paling sensitif bagi kelompok Hizbullah.

"Inilah yang paling menyakitkan bagi mereka," ucap Ben-Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel.

Menteri Pertahanan Israel Katz turut menyampaikan penegasan mengenai arah kebijakan militer Tel Aviv di wilayah Lebanon. Ia menyatakan wilayah Dahiyeh di Beirut yang menjadi basis Hizbullah akan menerima perlakuan serupa dengan wilayah utara.

"Nasib Dahiyeh di Beirut adalah nasib kota-kota di bagian utara." tegas Katz, Menteri Pertahanan Israel.

Katz juga memberikan tanggapan keras terhadap keterlibatan pihak luar dalam konflik ini, menyusul aksi saling serang antara Israel dan Iran pada Senin (8/6) setelah Teheran mengancam akan memberikan respons menghancurkan jika serangan ke Lebanon diteruskan.

"Kami secara tegas menolak ancaman Iran, dan setiap upaya Iran untuk mengaitkan Lebanon dengan Iran atau menyerang Israel akan ditanggapi dengan kekuatan besar, seperti yang terjadi kemarin," tegas Katz, Menteri Pertahanan Israel.

Dalam rapat kabinet yang sama, beberapa pejabat negara lain ikut menyuarakan strategi perang. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menuduh Hizbullah sengaja menjebak pihaknya dalam perang atrisi, sementara Menteri Urusan Permukiman Orit Strock mendesak adanya pendudukan wilayah di Lebanon.

Kebutuhan logistik militer untuk mendukung pergerakan pasukan juga menjadi sorotan utama dalam diskusi internal pemerintah.

"Israel membutuhkan banyak senjata," kata Wasserlauf, Menteri Pembangunan Wilayah Pinggiran, Negev, dan Galilea.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: Hizbullah Israel konflik Lebanon
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author