Mengenal Future Faking Tren Kencan Red Flag yang Menjual Harapan Palsu
Istilah baru dalam dunia percintaan kembali bermunculan setelah fenomena ghosting, situationship, hingga breadcrumbing marak dibahas. Kini, terdapat tren kencan baru bernama future faking yang dianggap sebagai salah satu tanda bahaya atau red flag dalam sebuah hubungan.
Fenomena future faking merupakan kondisi ketika seseorang terus-menerus membicarakan masa depan bersama pasangannya, tetapi tidak memiliki niat nyata untuk mewujudkannya. Tren kencan ini kerap diisi dengan pemberian harapan lewat berbagai janji manis, seperti mengajak menikah, tinggal bersama, atau membangun keluarga.
Sikap manis seperti ini pada awalnya bisa terlihat romantis dan membuat pasangan merasa dihargai. Seperti dilansir dari Wolipop, tidak sedikit orang yang akhirnya semakin yakin dan serius menjalani hubungan karena memercayai rencana-rencana yang dibicarakan tersebut.
Namun, seiring berjalannya waktu, janji tersebut ternyata hanya sebatas ucapan semata. Pelaku hubungan tidak melakukan langkah nyata untuk mewujudkan semua rencana yang sudah dijanjikan sebelumnya kepada pasangan.
Pemanfaatan harapan pasangan menjadi hal yang membedakan future faking dari bentuk manipulasi lainnya. Pelaku membuat seseorang terus bertahan karena percaya pada masa depan yang dijanjikan, bukan karena hubungan yang sedang dijalani benar-benar berkembang dengan baik.
Pelaku manipulasi ini biasanya sangat pandai membuat pasangannya merasa spesial. Bahkan saat hubungan baru seumur jagung, mereka sudah berani membicarakan hal-hal besar seperti pernikahan, rumah impian, hingga kehidupan bersama.
Menurut Psychology Today, terdapat beberapa tanda yang bisa dikenali dari fenomena ini. Salah satunya adalah pasangan yang sering membuat janji tetapi jarang menepatinya dalam kehidupan nyata.
Mereka juga cenderung menghindari pembicaraan yang lebih serius mengenai kapan dan bagaimana rencana tersebut akan diwujudkan. Ketika pasangannya mulai meminta kepastian, pelaku justru bisa balik menyalahkan.
Pelaku mungkin mengatakan bahwa pasangannya terlalu banyak menuntut atau merusak suasana hubungan. Tak jarang pula mereka menggunakan kata-kata manis atau tindakan romantis untuk mengalihkan perhatian dari janji yang belum ditepati.
Korban manipulasi ini sering kali merasa hidup dalam fase 'nanti suatu saat'. Selalu ada harapan baru yang diberikan, tetapi harapan tersebut tidak pernah benar-benar terjadi dalam realitas.
Bahkan ketika hubungan sedang bermasalah, pelaku bisa kembali menjanjikan masa depan yang lebih baik agar pasangannya tetap bertahan. Jika merasa mengalami situasi seperti ini, penting untuk lebih memperhatikan tindakan dibandingkan ucapan pasangan karena keseriusan biasanya ditunjukkan lewat langkah nyata.