Minahasa Tenggara Dorong Agrowisata Buah Salak di Desa Pangu
Kabupaten Minahasa Tenggara memperkuat posisinya sebagai daerah penghasil salak dengan mengoptimalkan potensi pertanian lokal. Potensi perkebunan buah khas tersebut dilansir dari Detik Travel kini dikembangkan menjadi daya tarik wisata di wilayah tersebut. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Minahasa Tenggara mempromosikan perkebunan di Desa Pangu sebagai destinasi agrowisata.
Langkah ini bertujuan untuk mengenalkan potensi pertanian daerah sekaligus menarik kunjungan wisatawan. Pengunjung yang datang ke kawasan agrowisata ini dapat menikmati pengalaman memetik buah segar langsung dari pohonnya. Selain mengitari area perkebunan, wisatawan juga bisa berinteraksi dengan petani lokal untuk memelajari budaya bercocok tanam setempat.
Kawasan ini menawarkan suasana khas pegunungan yang sejuk serta pemandangan alam yang hijau. Para pelancong juga berkesempatan mencicipi berbagai produk olahan inovatif khas desa, salah satunya adalah dodol salak.
Aktivitas bertani salak telah menjadi sumber mata pencaharian utama bagi seluruh masyarakat Desa Pangu. Lahan perkebunan yang sudah produktif di kawasan tersebut saat ini diperkirakan mencapai luas sekitar 500 hektare. Hampir seluruh warga di wilayah tersebut memiliki kebun sendiri. Kawasan perkebunan salak ini membentang di sepanjang lembah curam tepi jalan yang mencakup area Pangu Induk, Pangu Satu, hingga Pangu Dua.
Komoditas unggulan ini dipanen oleh para petani dari Desa Pangu, Kecamatan Ratahan Timur. Hasil panen tersebut kemudian didistribusikan ke sejumlah pasar di Sulawesi Utara, bahkan menembus pasar internasional.
Varietas dan Keunggulan Salak Pangu
Tanaman salak pangu dikenal memiliki masa pertumbuhan yang relatif singkat. Pohon ini sudah mulai berbuah pada usia 3 hingga 4 tahun, sehingga ketersediaan buahnya cenderung melimpah sepanjang waktu. Proses pemanenan dapat berlangsung hingga dua kali dalam satu bulan.
Dalam sekali panen, setiap hektar lahan perkebunan mampu menghasilkan sekitar 625 hingga 1.000 kilogram buah salak. Jenis tanaman yang dibudidayakan para petani Desa Pangu merupakan varietas amboinensis. Varietas ini terbagi menjadi dua jenis utama yang dapat dibedakan dari bentuk fisik dan cita rasanya.
Jenis pertama memiliki bentuk bulat dengan warna kulit agak kehitam-hitaman saat matang. Buah ini menawarkan tekstur renyah dengan dominasi rasa manis, sedangkan tingkat keasamannya cenderung lebih rendah.
Sementara itu, jenis kedua memiliki bentuk bulat lonjong dengan warna kulit kuning kemerahan setelah matang. Karakteristik rasanya menghadirkan sensasi asam pada gigitan pertama, kemudian disusul oleh rasa manis dengan tekstur yang tetap renyah.