Maria Kang Didiagnosis Kanker Usus Besar Stadium 4
Seorang pegiat kebugaran asal California, Maria Kang, terdiagnosis mengidap penyakit kanker usus besar stadium 4 pada November 2023. Informasi yang dilansir dari Detik Health tersebut mengejutkan wanita berusia 46 tahun itu lantaran dirinya konsisten menerapkan pola makan sehat dan rutin membantu masyarakat memprioritaskan kesehatan.
"Ini benar-benar mengejutkan, karena saya adalah orang paling sehat yang saya kenal," ujar Maria Kang, pegiat kebugaran asal California.
Kang mengungkapkan bahwa dirinya terbiasa mengonsumsi makanan bergizi serta menyaring air minumnya secara ketat. Hal tersebut membuatnya sempat bingung terkait pemicu utama kemunculan sel kanker di dalam tubuhnya.
"Saya ingin menyalahkan makanan, tetapi saya tidak makan makanan yang buruk. Saya menyaring air minum saya. Tidak ada alasan mengapa saya terkena kanker ini," kata Kang.
Meski mempraktikkan gaya hidup sehat, Kang memiliki riwayat gangguan sistem pencernaan kronis yang dialaminya sejak masa remaja. Keluhan berupa sembelit berkepanjangan dan perut kembung berulang tersebut makin memburuk saat dirinya mengalami stres.
"Tidak peduli berapa banyak pil serat atau obat pencahar yang saya minum, tetap saja butuh waktu lama untuk buang air besar," ujar Kang.
Ia mengira masalah pencernaan yang dialami selama bertahun-tahun merupakan kondisi biasa yang wajar terjadi. Pandangan tersebut kemudian disadarinya sebagai kekeliruan dalam menilai sinyal kesehatan tubuh.
"Jadi, itu adalah perjalanan yang terus berlanjut sepanjang hidup saya," kata Kang.
Ia menambahkan bahwa kebiasaan mengabaikan gejala pencernaan berisiko menutupi adanya masalah medis yang lebih serius.
"Satu hal yang saya sadari adalah kita menormalisasi masalah, dan kita pikir itu tidak apa-apa, tetapi sebenarnya tidak," ujar Kang.
Menurutnya, proses pembuangan sisa makanan idealnya berjalan lancar tanpa disertai hambatan fisik rutin.
"Pencernaan seharusnya seperti bernapas. Seharusnya seperti menghirup dan mengembuskan napas. Seharusnya sederhana. Tetapi ternyata tidak sederhana," kata Kang.
Tim medis menemukan adanya massa tumor di saluran pencernaan Kang setelah melakukan tindakan kolonoskopi. Kang sempat mencoba pendekatan medis holistik selama 12 minggu, tetapi ukuran tumor justru sedikit membesar. Pada tahun 2024, ia memutuskan menjalani kemoterapi kombinasi FOLFOX yang ditujukan bagi penderita kanker saluran pencernaan.
Kondisi medis Kang sempat membawanya ke ruang gawat darurat usai satu kali sesi kemoterapi akibat stoma kolostominya tertarik ke dalam. Hasil pemindaian saat itu memperlihatkan penyusutan tumor yang signifikan, sehingga Kang meminta penghentian kemoterapi untuk melanjutkan langkah penanganan lewat tindakan bedah.
Operasi besar dilakukan untuk mengangkat tumor utama beserta usus besar sepanjang 30 sentimeter, beberapa organ reproduksi, dan usus buntu. Prosedur penanganan medis tersebut membuat Kang sempat memerlukan pemasangan kolostomi dan ileostomi.
Pemeriksaan MRI terkini menunjukkan tidak ada lagi massa tumor yang mencurigakan di dalam tubuh Kang. Untuk memantau perkembangan kesehatannya secara berkala, ia wajib menjalani pemeriksaan darah dan pemindaian rutin setiap enam bulan sekali.
"Sebagian besar yang tersisa tampaknya terkait dengan penyembuhan pascaoperasi dan peradangan," ujar Kang.
Status medis Kang saat ini masih dalam pengawasan ketat oleh tim dokter yang menanganinya.
"Karena riwayat kesehatan saya, dokter terus memantau, tetapi saya belum secara resmi dinyatakan NED (No Evidence of Disease atau tidak ada bukti penyakit)," kata Kang.
Pengalaman hidup yang dijalaninya menjadi pengingat penting bagi publik mengenai potensi risiko penyakit kritis tanpa memandang tingkat kebugaran seseorang.
"Hal itu bisa terjadi pada siapa saja, itulah kesadaran yang paling menyadarkan," ujar Kang.
Ia menegaskan bahwa usia muda dan gaya hidup teratur tidak menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari ancaman kanker.
"Anda mungkin berpikir Anda masih muda dan sehat dan ini tidak akan terjadi pada Anda, tetapi dunia saat ini sangat tidak terduga. Apa pun bisa terjadi pada siapa pun," kata Kang.