Lansia 84 Tahun Selamat Tertimbun Reruntuhan Gempa Magnitudo 7,7 di Flores
Seorang lansia berusia 84 tahun ditemukan selamat setelah tertimbun reruntuhan rumahnya selama tiga hari akibat gempa bumi magnitudo 7,7 di kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur, yang terjadi pada 15 Agustus 2026.
Paulina Pobi ditemukan dan dievakuasi dari puing-puing rumahnya pada 18 Agustus 2026. Rumah tersebut hancur total setelah gempa mengguncang sebuah pulau kecil di utara Flores.
Ketika gempa terjadi, Paulina terperangkap di bawah reruntuhan dinding bambu dan tidak bisa bergerak atau berbicara karena kondisi lumpuhnya. Keluarga yang awalnya mengira dia sudah diselamatkan baru menyadari keberadaannya saat kembali ke rumah pada hari keempat.
"Karena lumpuh, ia tidak bisa bergerak atau berbicara, sehingga baru pada hari keempat keluarganya akhirnya menemukannya," ujar pejabat lokal Rudolfus Riba, dilansir dari Detik Health.
Meski terperangkap selama tiga hari tanpa asupan makanan dan minuman, kondisi Paulina tetap stabil dan sehat, tanpa luka. Ia hanya mengalami sedikit kelemahan akibat tidak makan dan minum dalam beberapa hari.
"Kondisinya sehat, tidak ada luka sama sekali. Ia hanya sedikit lemas karena tidak makan atau minum selama berhari-hari," kata Rudolfus.
"Rasanya sulit dipercaya, hampir seperti keajaiban," tambahnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa ini menewaskan 73 orang, melukai lebih dari 900 orang, dan memaksa hampir 60.000 warga mengungsi. BNPB telah menyalurkan sekitar 400 ton bantuan logistik yang meliputi makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 3.000 gempa susulan sejak 15 Agustus, dengan 86 guncangan kuat yang dirasakan warga. Banyak dari mereka masih trauma dan enggan kembali ke rumahnya.
Indonesia memang rawan gempa karena berada di zona Ring of Fire, area dengan aktivitas seismik dan vulkanik tinggi. Sejarah gempa besar juga tercatat pada 2004 di lepas pantai Sumatra yang memicu tsunami besar dan menewaskan sekitar 220.000 jiwa di kawasan regional, termasuk 170.000 di Indonesia.