Pemerintah dan Bank Indonesia Sepakati Dua Langkah Stabilisasi Rupiah

Share

Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan menyepakati dua langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam pertemuan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Sabtu (6/6/2025). Langkah stabilisasi ini dirumuskan menyusul posisi mata uang garuda yang telah menyentuh angka Rp18.036 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2025), sebagaimana dilansir dari Detik Finance.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Selain merumuskan kebijakan moneter, koordinasi otoritas moneter dan fiskal ini dipererat guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Fokus utama dari sinergi ini adalah menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter agar saling memperkuat dalam menahan pelemahan nilai tukar.

"Penguatan koordinasi fiskal-moneter itu terus kita lakukan dan saat ini adalah memang difokuskan, bagaimana fiskal dan moneter seirama, saling mendukung, saling memperkuat, dengan kewenangan masing-masing untuk memperkuat upaya-upaya bersama melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah," ungkap Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Strategi pertama yang disepakati adalah meningkatkan daya tarik imbal hasil demi menjaring kembali arus modal asing masuk ke dalam negeri. Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga di luar negeri memicu aliran modal keluar pada instrumen saham, Surat Berharga Negara (SBN), dan sebagian kecil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Dengan kenaikan bunga luar negeri, memang itu ada outflow, ada saham dan SBN dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows ini kembali masuk besar dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah," terang Perry Warjiyo.

Adapun langkah kedua berfokus pada pemeliharaan kecukupan likuiditas di pasar keuangan serta sektor perbankan. Mekanisme ini ditempuh dengan tetap mengelola kas pemerintah di Bank Indonesia, diikuti oleh peningkatan nilai remunerasi yang disalurkan otoritas moneter kepada pihak fiskal.

"Menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan cara pengelolaan kas pemerintah tetap di BI, tapi tentu saja ada peningkatan remunerasi atau bunga yang dibayarkan BI kepada pemerintah. Dengan demikian operasi moneter itu tetap berjalan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sementara operasi fiskalnya juga mendukung," jelas Perry Warjiyo.

Dampak penurunan nilai tukar ini dilaporkan sudah mulai menekan sektor ekonomi mikro, termasuk para pengrajin tahu dan tempe. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa beban produksi komoditas tersebut melonjak karena bahan baku yang masih bergantung pada jalur impor.

"With nanti kebijakan lebih bagus itu, kita akan melihat rupiah yang lebih stabil sehingga para pedagang tahu, tempe, dan ibu-ibu rumah tangga juga bisa merasakan harga yang lebih baik, dan tidak terbebani lagi, beban hidupnya secara, tidak mengalami kenaikan beban hidup yang terlalu signifikan," jelas Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa kondisi fundamental ekonomi domestik saat ini masih berada dalam status yang sangat baik. Pemerintah berkomitmen meningkatkan penyelarasan kebijakan dengan Bank Indonesia demi memulihkan kepercayaan pasar global terhadap mata uang rupiah.

"Kita akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fikal lebih signifikan ke perekonomian. Dan tentunya kalau kebijakannya sudah menyatu seperti itu, sinergi penuh, itu harusnya akan mengembalikan kepercayaan pasar ke nilai rupiah, sehingga rupiah akan meningkat secara signifikan," pungkas Purbaya Yudhi Sadewa.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author