Kurva Imbal Hasil Obligasi Datar Picu Kekhawatiran Investor Global
Pelaku pasar menyoroti bentuk kurva imbal hasil obligasi Indonesia yang terlalu datar pada Minggu (31/5/2026), karena berpotensi memberikan sinyal keliru bagi investor global mengenai harga risiko yang sebenarnya.
Kondisi pasar surat utang yang tidak lazim ini memicu kekhawatiran terkait mekanisme penentuan harga, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz. Saat ini imbal hasil untuk tenor satu tahun dan sepuluh tahun sama-sama berada di angka 6,7 persen.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa investor jangka panjang semestinya mendapatkan premi risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan investor jangka pendek.
“Saat ini kita melihat tenor satu tahun dan tenor sepuluh tahun sama-sama berada di kisaran 6,7%,” kata Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia lewat keterangan resmi.
Menurut Fakhrul, pemerintah memang berkepentingan menjaga biaya pendanaan tetap rendah untuk membiayai pembangunan. Namun, ada trade-off yang harus dihadapi saat stabilisasi nilai tukar sedang menjadi prioritas.
“Ketika kedua tenor tersebut memiliki imbal hasil yang hampir sama, pasar mulai mempertanyakan mekanisme price discovery yang terjadi,” kata Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.
Ia berargumen bahwa ruang untuk obligasi jangka panjang harus dibuka agar pasar dapat menemukan harga wajar jika fokus utama saat ini adalah menahan depresiasi rupiah.
"Kita harus jujur bahwa menjaga rupiah dan menjaga biaya pendanaan murah secara bersamaan tidak selalu bisa dilakukan dalam waktu yang sama,” kata Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.
Ia menambahkan, tekanan terhadap mata uang nasional terjadi akibat persepsi pemodal bahwa premi risiko Indonesia belum tercermin sepenuhnya pada obligasi tenor panjang.
“Jika fokus utama saat ini adalah menghentikan depresiasi Rupiah dan mengembalikan kepercayaan pasar, maka long end of the curve perlu diberikan ruang untuk menemukan harga yang lebih wajar,” tutur Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.
Struktur kurva imbal hasil yang membaik dinilai akan membantu menopang stabilitas jangka panjang. Insentif memegang aset rupiah pun berkurang akibat tiadanya premi tambahan pada obligasi jangka panjang.
“Ketika investor melihat rupiah melemah, tetapi obligasi jangka panjang tidak memberikan premi tambahan yang memadai, maka insentif untuk menahan aset Rupiah menjadi berkurang,” tutur Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia.
Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah merosot ke level Rp17.874 per dolar AS atau melemah 0,48 persen, yang menjadi posisi terendah sepanjang sejarah. Sepanjang Mei, rupiah terdepresiasi 2,91 persen dan menjadi mata uang terlemah di Asia, di bawah won Korea Selatan yang turun 2,1 persen serta yen Jepang sebesar 1,67 persen. Sejak awal kuartal II-2026, kemerosotan rupiah telah mencapai 4,92 persen.
Faktor eksternal dan domestik juga turut membayangi pergerakan mata uang nasional. Selain pelebaran defisit fiskal dan transaksi berjalan, pasar turut mengantisipasi risiko penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat global serta memantau kebijakan wajib parkir Devisa Hasil Ekspor di dalam negeri.