Kurs Rupiah Cetak Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah Tembus Rp17.791

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada sesi perdagangan siang, Selasa (26/5/2026). Dilansir dari Bloombergtechnoz, mata uang Indonesia melemah 0,27 persen ke posisi Rp17.791 per dolar AS pada pukul 12:56 WIB.

Kemerosotan ini menandai pelemahan nilai tukar rupiah selama empat hari berturut-turut. Kondisi tersebut dipicu oleh memburuknya sentimen terkait defisit fiskal serta arah kebijakan domestik yang terjadi di tengah lonjakan harga minyak mentah global.

Saat indeks dolar AS terpantau stabil di level 99, harga minyak mentah justru melonjak 2,49 persen ke posisi US$98,53. Kenaikan harga komoditas ini terjadi setelah munculnya kabar penyerangan terhadap Iran oleh AS di Selat Hormuz yang menghambat penyelesaian konflik.

Situasi geopolitik tersebut menekan mayoritas mata uang di kawasan Asia, dengan baht Thailand mengalami koreksi paling dalam. Sebaliknya, won Korea Selatan berhasil menguat signifikan, diikuti dolar Taiwan yang mencatat penguatan terbatas.

Sementara itu, pergerakan di pasar Surat Utang Negara (SUN) menunjukkan tren yang bervariasi. Aksi beli investor masih terjadi pada instrumen tenor 1 tahun dengan yield turun 2 bps ke 6,67 persen, tenor 2 tahun turun 2,6 bps ke 6,62 persen, dan tenor 3 tahun turun 1,5 bps ke 6,63 persen.

Penurunan imbal hasil juga terjadi pada SUN tenor 7 tahun sebesar 2,2 bps menjadi 6,76 persen, serta tenor 9 tahun yang turun 1,1 bps ke level 6,81 persen. Aktivitas pasar ini ditopang oleh program intervensi pemerintah untuk stabilisasi rupiah dengan target penyerapan Rp2 triliun per hari.

Namun, investor cenderung melepas SUN tenor 5 tahun sehingga imbal hasilnya naik 3,4 bps ke 6,69 persen, dan tenor 6 tahun naik 1,2 bps ke 6,77 persen. Tenor acuan 10 tahun juga mencatat kenaikan yield sebesar 2,2 bps menjadi 6,7 persen.

Pada pasar obligasi berdenominasi dolar AS (INDON), imbal hasil terpantau mengalami penurunan. Yield tenor 2 tahun merosot 9,5 bps ke 4,17 persen, tenor 2 tahun lainnya turun 2,1 bps ke 4,44 persen, tenor 5 tahun turun 3,5 bps ke 4,81 persen, dan tenor 10 tahun turun 7,4 bps ke 5,37 persen.

Aksi beli di pasar obligasi INDON ini berjalan selaras dengan penurunan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury). Imbal hasil US Treasury tenor 2 tahun turun 6,6 bps ke 4,05 persen, tenor 3 tahun turun 6,8 bps ke 4,1 persen, tenor 5 tahun turun 6,6 bps ke 4,19 persen, dan tenor 10 tahun berkurang 5,3 bps ke posisi 4,5 persen.

Secara fundamental, tekanan pada rupiah terjadi karena rendahnya rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Brough (PDB) Indonesia dibandingkan negara lain. Rasio pendapatan negara terhadap PDB Meksiko mencapai 25 persen dan India berada di angka 20 persen.

Di tingkat Asia Tenggara, Filipina mencatatkan rasio 21 persen dan Kamboja sebesar 15 persen. Sementara itu, rasio penerimaan negara Indonesia hanya berkisar antara 11 hingga 12 persen dari PDB.

Pelaku pasar menilai angka tersebut sebagai indikator rapuhnya fiskal domestik di tengah meningkatnya tekanan global. Rendahnya rasio ini menunjukkan terbatasnya ruang fiskal pemerintah dalam mengantisipasi gejolak eksternal, terutama saat dibutuhkan belanja besar untuk daya beli, subsidi energi, dan stabilitas ekonomi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author