Krisis Selat Hormuz Picu Persaingan Gas Global di Asia dan Eropa

Share

Kondisi Selat Hormuz yang praktis tertutup selama hampir tiga bulan memicu kekhawatiran para pedagang terhadap pasokan gas global di tengah ancaman suhu musim panas yang tinggi di Asia pada Minggu (7/6/2026).

Gelombang panas diproyeksikan meningkatkan penggunaan pendingin udara dan membebani jaringan listrik saat harga energi melonjak, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Konflik di Timur Tengah tercatat telah menghambat sekitar seperlima pasokan LNG global, namun lonjakan harga ekstrem sempat tertahan oleh lemahnya impor China pada Maret dan April.

Kini, pengiriman LNG ke Eropa turun lebih dari 10% dibanding tahun lalu karena kargo mulai beralih ke Asia yang bersedia membayar harga lebih tinggi.

Analis energi di MST Marquee memberikan proyeksi mengenai potensi kenaikan harga komoditas tersebut dalam beberapa bulan ke depan.

"Dampak penuh dari penutupan Selat Hormuz belum terasa karena kita masih berada pada periode transisi dengan permintaan yang relatif rendah," kata Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee.

Kavonic juga memprediksi potensi pergerakan harga pasar jika situasi konflik terus berlanjut hingga akhir musim panas.

"Harga LNG dapat naik hingga 50% lagi sampai Agustus jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup." ujar Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee.

Di sisi lain, pemulihan impor China terus terjadi seiring langkah perusahaan utilitas mengisi kembali fasilitas penyimpanan dan menggantikan pasokan dari Qatar yang hilang.

Ahli strategi riset energi memberikan analisis terkait tren kenaikan volume gas di negara importir terbesar tersebut.

"Permintaan China kemungkinan akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring faktor musiman," kata Maggie Xueting Lin, ahli strategi riset energi di Citigroup Inc.

Lin menambahkan bahwa pemulihan ini masih tertahan oleh kondisi ekonomi domestik serta kebijakan perdagangan yang berlaku.

"permintaan dari sektor industri masih cukup lemah akibat lesunya sektor properti," dan untuk saat ini "pemerintah China masih mempertahankan tarif atas impor LNG dari AS." ujar Maggie Xueting Lin, ahli strategi riset energi di Citigroup Inc.

Sementara itu, kawasan Eropa menghadapi posisi sulit karena rendahnya produksi listrik tenaga air di Swiss dan penurunan tinggi air sungai yang mengancam operasional pembangkit nuklir.

Pihak industri energi Eropa menyatakan bahwa pemenuhan cadangan energi menjelang musim dingin menjadi tantangan yang semakin berat.

"Pasar gas di Eropa sedang ketat," kata Helle Ostergaard Kristiansen, wakil presiden senior untuk gas dan listrik di Equinor ASA.

Kristiansen menegaskan bahwa kelanjutan konflik di Timur Tengah akan memperburuk stabilitas pasokan energi di kawasan tersebut.

"Secara sederhana, pasokan gas fisik tidak mencukupi dan mengisi penyimpanan gas hingga tingkat yang memadai untuk musim dingin mendatang merupakan tantangan. Dan setiap hari konflik ini berlanjut, situasinya menjadi semakin kritis." ujar Helle Ostergaard Kristiansen, wakil presiden senior untuk gas dan listrik di Equinor ASA.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author