Konsumsi Pertalite Melonjak 9,4 Persen Usai Kenaikan Harga Pertamax
PT Pertamina Patra Niaga melaporkan lonjakan konsumsi Bahan Bakar Minyak atau BBM bersubsidi jenis Pertalite sebesar 9,4 persen pada Juli 2026 akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat pascapenyesuaian harga lini nonsubsidi sejak April lalu.
Pergeseran perilaku ini memicu antrean panjang kendaraan roda dua di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Tanjung Morawa di Deli Serdang dan beberapa SPBU di Bogor karena pasokan Pertamax sempat kosong.
Data operasional menunjukkan komposisi penjualan bensin nasional mengalami perubahan besar, di mana pangsa pasar Pertalite meluas dari 75,4 persen pada periode Januari-Mei menjadi 80,3 persen pada Juli 2026, sedangkan proporsi Pertamax menyusut dari 23,2 persen ke angka 18,8 persen.
"Pertamina melakukan penyesuaian harga, khususnya BBM JBU (non-subsidi) pada 18 April yang lalu. Telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM, yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM, khususnya produk BBM PSO (subsidi), baik itu Pertalite maupun Biosolar," ujar Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Kamis (16/7/2026).
Eko Ricky Susanto menambahkan bahwa pergeseran ke bensin bersubsidi ini secara akumulatif telah mengubah keseimbangan pasar bahan bakar kendaraan di dalam negeri.
"Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser kepada BBM PSO," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Dampak penyesuaian harga juga menekan volume penjualan lini non-subsidi secara keseluruhan hingga mengalami penurunan drastis.
“Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoline [bensin] itu sudah bergeser kepada BBM PSO [subsidi]. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM [Jenis BBM Umum] JBU (nonsubsidi), khususnya Pertamax Series, terjadi penurunan hampir 18 persen,” kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga.
Penurunan permintaan tersebut terjadi seiring bergesernya minat beli kelompok konsumen kelas menengah rentan terhadap varian bahan bakar yang lebih ekonomis.
“Seingga sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM JBU per 18 April yang lalu telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk BBM PSO, baik itu Pertalite maupun biosolar,” ujarnya Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga.
Fenomena peralihan konsumsi tidak hanya melanda segmen bensin melainkan merembet ke komoditas diesel karena didorong oleh masuknya kendaraan sektor industri ke fasilitas pengisian umum.
“Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan, juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi Biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel PT Pertamina Patra Niaga.
Tingginya serapan harian memaksa manajemen Pertamina Patra Niaga merombak strategi distribusi guna mempertebal stok cadangan di garda depan penyaluran.
"Ini membuat perubahan operasi dari Pertamina Patra Niaga untuk bisa meng-cover atau mem-build up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita, khususnya SPBU," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga.
Kondisi pasar kian menantang setelah harga Pertamax melonjak hingga 32 persen menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, yang memicu lonjakan konsumsi Biosolar sebesar 13,9 persen dan penurunan Dex Series sebesar 6,4 persen.
"Sejak Pertamina melakukan penyesuaian harga khususnya BBM JBU per 18 April yang lalu telah terjadi perubahan perilaku konsumen untuk konsumsi BBM yang saat ini terjadi peningkatan konsumsi BBM khususnya produk BBM PSO baik itu Pertalite maupun Biosolar," kata Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Pertamina Patra Niaga.
Peningkatan tajam arus permintaan bensin bersubsidi ini menuntut penyesuaian rantai pasok agar tidak memicu kekosongan stok yang lebih meluas di tingkat pengecer.
"Jadi hampir 5% komposisi BBM gasolin itu sudah bergeser ke BBM PSO. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax Series terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan periode sebelumnya," ujarnya Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Pertamina Patra Niaga.
Kenaikan volume permintaan di lapangan memicu hambatan operasional baru di beberapa wilayah luar Jawa hingga memunculkan laporan kelangkaan produk dari masyarakat.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke Biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli," katanya Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Pertamina Patra Niaga.
Untuk mengantisipasi kemacetan distribusi, manajemen emiten pelat merah tersebut mengambil langkah darurat guna mengamankan ketersediaan bahan bakar di SPBU.
"Ini salah satu lonjakan demand di berbagai wilayah khususnya di setiap MOR yang saat ini juga membuat perubahan operasi dari Pertamina Patra Niaga untuk bisa meng-cover build-up stock di semua jaringan lembaga penyalur kita khususnya SPBU," ujar Eko Ricky Susanto, Direktur Pemasaran Pertamina Patra Niaga.
Merespons kendala teknis logistik di wilayah Medan dan Ketapang, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM memastikan bahwa stok nasional berada pada posisi aman.
“[Hal] yang pertama, ketersediaan BBM di terminal terpadu. Ini pengiriman itu relatif lancar. Kemudian distribusi dari terminal terpadu ke SPBU-SPBU ada hambatan transportasi atau bagaimana.
Ya, kita juga sudah turunkan tim ke lapangan. Jadi, untuk ini ya kita akan selesaikan permasalahan ada antrean-antrean di SPBU di beberapa daerah,” kata Yuliot Tanjung, Wakil Menteri ESDM.
Ekonom menilai selisih harga yang terlampau jauh antara Pertamax dan Pertalite seharga Rp10.000 per liter berisiko membengkakkan beban kompensasi energi pada APBN.
“Pengguna Pertamax 92 bukan cuma orang kaya, tetapi juga kelas menengah rentan. Ada pekerja, pegawai, guru, ojol, dan jutaan kelas menengah yang selama ini memilih BBM yang lebih baik untuk kendaraannya. Ketika margin kenaikannya terlalu jauh, opsinya adalah membayar lebih mahal, atau turun ke Pertalite,” kata Media Wahyudi Askar, Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios).