Konflik AS dan Iran Memicu Pelemahan Bursa Saham Asia
Bursa saham di kawasan Asia bersiap melemah pada perdagangan Kamis (4/6) setelah bentrokan bersenjata terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali menekan pakta gencatan senjata sekaligus mengerek harga minyak mentah dunia, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Kontrak berjangka indeks saham untuk pasar Jepang dan Hong Kong mengindikasikan pembukaan di zona merah yang bersiap memutus reli kenaikan bursa saham regional selama empat hari berturut-turut. Di Wall Street, kontrak berjangka saham AS kompak turun sekitar 0,4 persen setelah indeks S&P 500 resmi menghentikan tren kenaikan sembilan hari beruntun, sementara saham Broadcom Inc juga anjlok karena proyeksi bisnis yang gagal memenuhi ekspektasi investor.
Lonjakan harga minyak mentah AS sebesar 2,4 persen terjadi akibat aksi saling tembak antara militer AS dan Iran sepanjang malam yang ikut menyeret Kuwait dan Bahrain. Kombinasi kenaikan harga energi dan ketangguhan pasar tenaga kerja AS langsung memicu penurunan harga obligasi pemerintah AS (Treasury) karena pelaku pasar meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve.
Ketegangan yang terus memuncak di Timur Tengah termasuk operasi militer Israel terhadap Hizbullah di Lebanon kini berisiko menggagalkan pembicaraan damai AS-Iran. Meskipun reli saham sektor kecerdasan buatan sempat melambungkan bursa ke rekor tertinggi, gelombang risiko geopolitik ini mulai menguji keberanian investor menghadapi dampak lonjakan harga minyak.
"Kita tidak lagi melihat gencatan senjata yang ragu, melainkan apa yang terjadi sekarang lebih mirip dengan konflik intensitas rendah," kata Chris Beauchamp, Chief Market Analyst di IG.
Menurut penjelasan Beauchamp, kondisi ini membuat masalah krusial terkait pasokan minyak menjadi tidak terselesaikan di saat waktu terus berjalan mendekati titik kritis bagi cadangan minyak serta ekonomi global.
Di Asia, mata uang yen bergerak di sekitar level 160 per dolar AS setelah Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda menegaskan perlunya kenaikan suku bunga sesuai perkembangan ekonomi dan inflasi. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi tindakan BOJ pada 16 Juni meskipun disampaikan dengan nada yang tidak sejelas komentar pada dua kenaikan sebelumnya.
“BOJ tampaknya berada di jalur yang tepat untuk menaikkan suku bunga pada Juni,” kata Yusuke Miyairi, Ahli Strategi Mata Uang Nomura International Plc.
Miyairi menambahkan bahwa pidato Ueda tidak akan mengubah tren pasangan dolar-yen lantaran langkah pengetatan kebijakan BOJ pada Juni tersebut sudah banyak diperhitungkan oleh pasar.
Perhatian pasar juga tersedot oleh kekuatan pasar tenaga kerja AS setelah data penambahan pekerja swasta terbesar sejak Januari 2025 membebani pasar obligasi dan mendorong imbal hasil Treasury tenor 10 tahun naik lima basis poin menjadi 4,49 persen. Kondisi ini membuat indeks dolar Bloomberg menguat 0,3 persen, sedangkan harga emas merosot hingga 1,4 persen ke bawah US$4.430 per ons.
Sentimen ketenagakerjaan ini akan dicermati kembali oleh investor melalui data klaim tunjangan pengangguran mingguan pada Kamis menjelang rilis laporan resmi pemerintah AS pada Jumat. Gubernur Federal Reserve Bank Dallas Lorie Logan menyatakan pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan suku bunga lagi tahun ini, sementara Gubernur Federal Reserve Bank New York John Williams menyebut prospek arah suku bunga masih belum pasti.
“Jika data ekonomi AS terus memberikan kejutan positif, investor kemungkinan akan semakin mengekspresikan pandangan bahwa The Fed akan lebih agresif melalui penguatan kembali dolar AS, terutama terhadap mata uang dengan imbal hasil rendah atau nol seperti yen Jepang, serta terhadap komoditas seperti emas,” kata Fawad Razaqzada dari Forex.com.