Komisi X DPR Soroti Kesiapan Guru Bahasa Prancis di Sekolah
Ketua Komisi X DPR Hetifah menyoroti kejelasan implementasi instruksi Presiden Prabowo Subianto terkait pengajaran bahasa Prancis di seluruh tingkatan sekolah di Indonesia. Sikap ini didasari atas perhatian terhadap kesiapan kompetensi tenaga pengajar serta sarana pembelajaran di sekolah, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Sabtu (30/5/2026).
"Kami tentu mendukung upaya pemerintah meningkatkan kemampuan bahasa asing peserta didik sebagai bekal menghadapi persaingan global. Namun, terkait arahan Presiden untuk memperluas pembelajaran Bahasa Prancis, perlu ada kejelasan implementasi di sekolah mengingat penguatan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib juga baru dijalankan tahun ini," kata Hetifah kepada wartawan, Sabtu (30/5/2026).
Kesiapan sumber daya pendidikan menjadi fokus utama yang ditekankan oleh Hetifah. Pihaknya mengkhawatirkan kebijakan baru ini akan menjadi beban tambahan bagi pihak sekolah apabila tidak didukung oleh ketersediaan guru yang memadai.
"Yang perlu menjadi perhatian adalah kesiapan sumber daya pendidikan, terutama ketersediaan dan kompetensi guru. Jangan sampai sekolah dibebani kebijakan baru tanpa dukungan tenaga pengajar yang memadai serta sarana pembelajaran yang cukup," ujarnya.
Selain masalah kompetensi pengajar, Hetifah juga memberikan pandangan mengenai metode pengajaran bahasa asing. Menurutnya, pendekatan instruksional harus diubah agar tidak sekadar berfokus pada hafalan materi.
"Pembelajaran bahasa asing harus dibuat menarik dan menyenangkan bagi siswa. Pendekatan melalui percakapan, permainan, musik, film, budaya, dan teknologi digital akan lebih efektif dibandingkan metode yang terlalu menekankan hafalan dan teori," ucapnya.
Hetifah meminta pemerintah untuk memastikan eksekusi kebijakan ini berjalan secara realistis. Ia menilai keberhasilan program tidak diukur dari kuantitas bahasa yang diajarkan di kelas.
"Kami berpandangan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa asing tidak ditentukan by banyaknya bahasa yang diajarkan, tetapi oleh kualitas pengajaran, kesiapan guru, dan minat siswa. Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan berjalan bertahap, realistis, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik," imbuhnya.
Sebelumnya, langkah penambahan bahasa asing ini diumumkan oleh Presiden Prabowo Subianto saat melakukan kunjungan resmi ke Istana Kepresidenan Élysée, Paris, Prancis. Di hadapan Presiden Emmanuel Macron pada Kamis (28/5/2026), Prabowo menyatakan masa depan dunia menjadi alasan penginstruksian kebijakan tersebut.
"Sekarang saya sudah menginstruksikan bahwa semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo.