Kim Yong-beom Peringatkan Risiko Booming Chip Korea Selatan ke Sektor Properti

Share

Lonjakan ekonomi Korea Selatan yang digerakkan oleh industri cip memicu kekhawatiran terkait penyebaran dampaknya ke sektor riil. Dilansir dari Bloombergtechnoz, para pembuat kebijakan diminta untuk mencermati bagaimana manfaat dari pertumbuhan ini dapat merata ke seluruh lapisan masyarakat. Kepala Kebijakan Kepresidenan Korea Selatan, Kim Yong-beom, mengingatkan adanya risiko aliran kelebihan likuiditas.

Menurut dia, dana besar tersebut memiliki kecenderungan kuat untuk masuk ke dalam pasar properti. Melalui pernyataan di akun Facebook miliknya, Kim Yong-beom menjelaskan bahwa ekspansi ekonomi negara tersebut kini tengah melaju dalam tingkat tercepat selama lebih dari dua dekade terakhir. Sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data global menjadi pendorong utama lompatan laba pada industri semikonduktor.

Kendati demikian, Kim Yong-beom mencatat manfaat pertumbuhan luar biasa ini belum dirasakan oleh banyak rumah tangga serta usaha kecil. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan yang nyata di dalam struktur ekonomi domestic saat ini.

Kesenjangan tersebut terlihat dari perbedaan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sebesar 3,8% dengan pendapatan domestik bruto riil yang mencapai 13,2% pada kuartal pertama. Kenaikan harga cip dinilai mendongkrak daya beli jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan output aktual. Sebagian besar peningkatan pendapatan diprediksi baru akan terlihat pada kuartal mendatang lewat bonus, kenaikan upah, serta repatriasi hasil ekspor. Proses ini yang kemudian dikhawatirkan bakal mendorong belanja barang mewah dan permintaan properti.

$$"Jika ditinjau kembali, gelontoran uang itu telah berulang kali mengalir ke pasar properti,"$$

Kim Yong-beom menambahkan bahwa sulit untuk menganggap siklus ekonomi kali ini akan berjalan secara berbeda. Guna mengantisipasi hal itu, ia menyerukan adanya langkah normalisasi pada pajak kepemilikan properti serta pajak keuntungan investasi modal. Hingga pertengahan Juni, harga apartemen di Seoul tercatat telah mengalami kenaikan selama 72 minggu berturut-turut. Tren peningkatan ini tetap terjadi meskipun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan pengetatan, termasuk pembatasan kredit pemilikan rumah (KPR).

Di sisi lain, pertumbuhan nominal yang menguat diperkirakan bakal mempersulit upaya mempertahankan tingkat suku bunga rendah dalam jangka panjang. Beban kebijakan moneter yang lebih ketat justru berpotensi menekan UMKM serta kelompok peminjam yang rentan. Pada akhir Mei, Bank of Korea memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 2,5%.

Langkah tersebut disertai sinyal kebijakan yang lebih hawkish seiring meningkatnya tekanan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang melampaui perkiraan awal. Pandangan dari Kim Yong-beom ini mencerminkan respons pemerintahan Presiden Lee Jae Myung terhadap keuntungan besar sektor semikonduktor. Terdapat kekhawatiran bahwa keuntungan tersebut hanya terkonsentrasi pada segmen masyarakat tertentu alih-alih mendukung pertumbuhan ekonomi yang merata.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author