Kemacetan Jalur Pasteur Bandung Menyiksa Warga Lokal Setiap Hari
Kepadatan arus lalu lintas seakan menjadi pemandangan tanpa henti di kawasan Pasteur, Kota Bandung. Jalur yang menjadi pintu masuk utama menuju Kota Kembang ini terus didera kemacetan parah, seperti dilansir dari Detik Travel.
Lonjakan volume kendaraan biasa terjadi saat akhir pekan dan musim liburan oleh arus wisatawan. Namun bagi masyarakat setempat, situasi tersendat ini harus mereka hadapi setiap hari sebagai rutinitas harian.
Kawasan Pasteur yang membentang di Jalan Dr. Djunjunan selalu dipadati kendaraan warga yang pergi bekerja maupun mengantar anak sekolah pada hari kerja. Saat akhir pekan tiba, volume kendaraan kian membubung akibat kedatangan pelancong.
Kondisi ini memperpanjang waktu tempuh perjalanan secara signifikan bagi warga sekitar yang beraktivitas di area tersebut.
"Kalau harus lewatin Pasteur pas libur mah mending muter saya mah. Ruwet banget soalnya," kata Bagus Ismail (28), salah seorang warga Bandung.
Kepadatan lalu lintas yang luar biasa terpantau pada Minggu (28/6) siang saat arus balik wisatawan mulai meninggalkan Kota Bandung. Antrean panjang kendaraan roda empat langsung menyergap selepas Flyover Mochtar Kusumaatmadja atau Flyover Pasupati.
Menurut Bagus, kemacetan yang berulang mengindikasikan perlunya tindakan serius dari otoritas terkait guna mengendalikan pertumbuhan kendaraan dan mengurai kepadatan.
"Harusnya ditata transportasi massalnya. Biar warga juga dibiasain gitu naik angkutan. Kalau kayak sekarang kan, pasti lebih milih pakai kendaraan pribadi. Soalnya belum ada yang nyaman banget kalau pakai angkot misalnya," ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah total kendaraan di Kota Bandung telah menembus angka 1.527.139 unit. Kategori kendaraan jenis sedan, jeep, dan minibus untuk angkutan umum tercatat sebanyak 124.615 unit, angkutan dinas 132.865 unit, serta 116.861 unit merupakan milik pribadi.
Sementara itu, data kepemilikan sepeda motor dan skuter menunjukkan angka 0 kendaraan untuk angkutan umum, 9.518 kendaraan dinas, dan mayoritas sebanyak 1.073.484 unit merupakan milik pribadi.
Tingginya angka kendaraan pribadi ini melahirkan fenomena tersendiri bagi warga lokal. Banyak di antaranya yang memilih untuk tidak keluar rumah demi menghindari kelelahan akibat terjebak macet.
"Ya, emang gitu. Warga Bandung-nya mending di rumah aja kalau libur. Ruwet banget soalnya kalau akhir pekan, jalan macet, panas, jadi mending di rumah aja sama keluarga," pungkasnya.
Persoalan transportasi publik yang belum memadai membuat ketergantungan pada kendaraan pribadi tetap tinggi, sehingga ongkos waktu akibat kemacetan masih harus dibayar oleh warga.