Jepang Selidiki Dugaan Dumping Impor Baja Asal Tiga Negara
Pemerintah Jepang meluncurkan penyelidikan anti-dumping terhadap impor produk baja utama dari China, Korea Selatan, dan Taiwan pada Senin (1/6/2026) demi mengatasi kelebihan kapasitas global yang memicu ketegangan perdagangan. Langkah hukum ini menyasar produk baja coil, strip, dan lembaran (sheet) dalam bentuk canai panas maupun dingin.
Pengumuman resmi dari kementerian perdagangan dan keuangan Jepang mengonfirmasi bahwa investigasi ini dilakukan setelah adanya permohonan dari produsen baja domestik raksasa seperti Nippon Steel Corp. dan JFE Steel Corp. Kenaikan praktik proteksionisme baja di tingkat global menjadi latar belakang utama pengajuan penyelidikan tersebut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Asosiasi produsen baja dalam negeri menilai tindakan proteksi perdagangan ini menjadi hal yang sangat krusial bagi stabilitas industri domestik saat ini.
"Di Jepang juga, kebutuhan akan langkah-langkah pemulihan perdagangan yang tepat menjadi semakin mendesak," kata Masayuki Hirose, Ketua Japan Iron and Steel Federation.
Langkah penyelidikan teranyar Tokyo ini memperpanjang rangkaian kebijakan serupa setelah tahun lalu mereka memeriksa impor baja berlapis dan baja nirkarat dari negara-negara tetangga tersebut. China selaku produsen baja terbesar dunia diketahui terus menggenjot volume ekspor ke pasar global akibat melemahnya permintaan di pasar domestik mereka sendiri.
Lonjakan pasokan ekspor dari China ini memicu penolakan perdagangan yang luas di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Latin. Selain itu, ekspansi kapasitas produksi baja baru di Asia Tenggara turut memperketat persaingan regional sehingga memaksa banyak perusahaan mencari pasar pelarian baru.
Produsen baja lokal Jepang dalam berkas permohonannya pada Februari menduga bahwa produk-produk flat steel impor tersebut dijual di pasar Jepang dengan harga diskon ekstrem. Nilai penjualan tersebut disinyalir mencapai hingga 50 persen di bawah nilai normal, padahal komoditas itu digunakan luas pada sektor otomotif, mesin, hingga kemasan.
Sebelum investigasi Jepang bergulir, eskalasi konflik dagang sektor baja sudah terjadi di berbagai negara sepanjang akhir tahun lalu hingga awal tahun ini. China sempat menyepakati kompromi harga dengan Korea Selatan pada Februari untuk menghentikan investigasi anti-dumping di Seoul.
Di sisi lain, Australia mengambil tindakan tegas dengan mengenakan tarif masuk hingga 82 persen terhadap produk baja hot-rolled coil asal China pada awal Mei. Kebijakan proteksi serupa juga diterapkan oleh Turki pada akhir Desember dengan memberlakukan bea masuk anti-dumping sebesar 3,95 persen untuk produk baja tertentu asal China.
Rangkaian pemeriksaan komprehensif terhadap dokumen dan data perdagangan oleh kementerian terkait di Tokyo diperkirakan akan memakan waktu maksimal satu tahun hingga menghasilkan keputusan final.