Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Ditutup untuk Amerika Serikat
Pemerintah Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali bagi pelayaran internasional selama Amerika Serikat tidak mengubah perilakunya dan memenuhi syarat Teheran untuk mengakhiri perang. Kebijakan tegas ini disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebagaimana dilansir dari Detikcom pada Rabu (12/8/2026). Pernyataan tersebut menjadi indikasi terkuat bahwa kesepakatan pembicaraan transit dengan Oman tidak akan otomatis membuka jalur vital maritim tersebut jika Washington mengabaikan komitmen nota kesepahaman yang disepakati Juni lalu. Rezaei, yang baru diangkat sebagai wakil komandan badan pengoordinasi keamanan dan kebijakan luar negeri Iran pada Minggu lalu, menekankan posisi penutupan kawasan perairan strategis itu.
"Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka," tegas Rezaei, sekutu dekat Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, seperti dikutip oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Rezaei juga merinci sejumlah tuntutan utama yang wajib dipenuhi oleh pihak Amerika Serikat demi mengakhiri bentrokan bersenjata di wilayah regional. "Amerika harus mengakhiri perang, membayar aset Iran yang dibekukan, perang harus berakhir di seluruh wilayah, termasuk di Lebanon dan Gaza," katanya, dilansir Al Arabiya, Rabu (12/8/2026).
Ia menambahkan penjelasan mengenai batas-batas perundingan yang sedang berlangsung bersama negara tetangga. "Jika kesepakatan tercapai antara Iran dan Oman mengenai rute transit melalui Selat Hormuz, kesepakatan ini akan menjadi masalah terpisah dari penutupan Selat Hormuz," imbuhnya.
Tuntutan resmi tersebut dipastikan telah dikirimkan kepada Washington melalui saluran diplomatik pihak ketiga. Penasihat Khamenei, Mohammad Mokhber, pada Selasa juga mempertegas penjatuhan hukuman terhadap agresor dan menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap ditutup hingga tuntutan Iran terpenuhi seluruhnya. Meskipun belum mengeluarkan tanggapan resmi atas pernyataan terbaru Teheran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan tuntutan balasan ganti rugi atas kematian korban perang dan aksi protes. "Kita akan meminta uang ganti rugi atas kerusakan yang telah mereka lakukan selama 50 tahun," kata Trump di Gedung Putih pada hari Senin lalu.