Iran Rombak Struktur Keamanan dan Militer Jalur Selat Hormuz
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk mantan panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Mohsen Rezaee sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) sekaligus wakil Khamenei di lembaga tersebut pada Agustus 2026. Langkah ini menandai perombakan struktur militer di tengah meningkatnya konfrontasi dengan Amerika Serikat dan pertikaian atas jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Rezaee menggantikan Mohammad Bagher Zolghadr yang digeser menjadi penasihat politik Pemimpin Tertinggi. Jabatan tersebut sebelumnya dipegang oleh Ali Larijani yang tewas akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel pada Maret lalu.
Selain Rezaee, perombakan militer Iran mengukuhkan Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi sebagai panglima tertinggi IRGC menggantikan Mohammad Pakpour yang tewas pada akhir Februari. Penunjukan lain mencakup Ali Abdollahi sebagai kepala staf angkatan bersenjata dan Ali Ozmaei sebagai kepala Angkatan Laut IRGC.
Peneliti Senior Center for Middle East Strategic Studies Abas Aslani menilai latar belakang Rezaee yang pernah memimpin IRGC pada era Perang Iran-Irak serta bertugas di Dewan Penentu Kebijakan akan membantu menyinkronkan berbagai lembaga negara.
"Mereka membutuhkan seseorang yang bisa menyinkronkan berbagai badan pemerintahan," kata Peneliti Senior Center for Middle East Strategic Studies Abas Aslani kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa fleksibilitas posisi politik Rezaee di antara faksi konservatif dapat memperluas ruang diplomasinya dalam pembicaraan keamanan.
"Saya pikir penting untuk memiliki seseorang yang mampu menjangkau berbagai faksi dan berbicara dengan mereka, dan itulah alasan dia dipilih," ujar Abas Aslani.
Di sisi lain, pengangkatan sosok veteran ini menegaskan keteguhan Teheran untuk tidak menyerah pada tekanan ekonomi dan militer Barat.
"Tidak diragukan lagi bahwa Khamenei, Vahidi, dan pimpinan IRGC memiliki pandangan yang sama bahwa perlawanan berkelanjutan terhadap AS merupakan suatu keharusan strategis," kata Asisten Profesor Politik Timur Tengah George Washington University Sina Azodi seperti dikutip dari Al Jazeera.
Azodi menguraikan bahwa penunjukan tersebut bertujuan untuk memperkuat posisi pimpinan serta stabilitas internal organisasi militer Iran.
"Penunjukannya tampaknya bertujuan untuk memperkuat kohesi internal, memperkokoh kendali pimpinan atas organisasi, serta memanfaatkan pengalaman sosok yang turut membentuk IRGC menjadi institusi militer dan politik seperti saat ini," ujar Sina Azodi.
Rezaee sendiri dikenal konsisten menyuarakan penolakan terhadap kompromi pelayaran di Selat Hormuz sebelum Amerika Serikat menghentikan blokade pelabuhan Iran.
"Saya meminta rekan-rekan yang menentang negosiasi untuk bersabar; pihak Amerika sendiri yang akan merusaknya dan tidak akan membiarkan negosiasi itu membuahkan hasil apa pun," kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaee pada awal Juli.
Situasi diplomasi kian rumit karena Iran menegaskan penutupan jalur energi global tersebut akan terus berlanjut hingga kesepakatan pemulihan hak-hak kedaulatan Teheran dipenuhi secara penuh oleh Washington.
Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa perombakan struktur pejabat merupakan bukti ketahanan sistem pemerintahan Republik Islam Iran dalam menghadapi krisis.
"Inilah tepatnya rahasia ketahanan dan kemenangan Republik Islam di tengah kondisi-kondisi penuh tantangan ini," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
Di tengah proses restrukturisasi strategi keamanan nasional ini, Iran juga sedang memfinalisasi negosiasi dengan Oman terkait pembukaan jalur pelayaran baru di sekitar Selat Hormuz. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak otomatis membuka kembali jalur utama pasokan energi global tanpa ada penghentian pelanggaran oleh pihak Amerika Serikat.