Garda Revolusi Iran Desak AS Pilih Opsi Buruk atau Lebih Buruk
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memberikan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kebuntuan konflik di Selat Hormuz. Pihak militer Iran menyatakan bahwa negara pimpinan Trump tersebut kini tidak memiliki pilihan menguntungkan selain menghadapi konsekuensi yang buruk atau jauh lebih buruk.
Ketegangan antara kedua negara ini terus memuncak seiring klaim dominasi Iran atas jalur perairan strategis tersebut sejak perang pecah pada akhir Februari. Dilansir dari Detikcom pada Senin (1/6/2026), posisi Iran saat ini dinilai lebih unggul dalam konfrontasi geopolitik di kawasan tersebut.
Wakil Bidang Urusan Politik pada IRGC, Brigadir Jenderal Yadollah Javani, menyampaikan analisisnya mengenai posisi Amerika Serikat yang dinilai terdesak pada Sabtu (30/5) malam waktu setempat.
"Trump, yang kekalahannya dalam perang telah menjadi jelas bagi siapa pun, sekarang menghadapi dua jalan ke depan: jalan yang buruk atau jalan yang lebih buruk," cetus Javani, Brigadir Jenderal IRGC.
Javani menjelaskan bahwa Trump dihadapkan pada pilihan untuk mengakui hak sah masyarakat Iran atau memilih untuk terus melanjutkan konfrontasi militer terhadap Teheran. Kesalahan perhitungan strategis disebut telah dilakukan oleh pihak musuh sejak meluncurkan agresi ke wilayah Iran.
"Iran telah memenangkan pertempuran ini, dan Amerika Serikat sedang menuju spiral kekalahan dan kemunduran," sebut Javani, Brigadir Jenderal IRGC.
Kondisi kawasan saat ini diklaim mengalami pergeseran yang sangat menguntungkan posisi Teheran. Berdasarkan pernyataan pihak militer, kendali penuh atas Selat Hormuz kini berada di tangan Iran sebagai jalur perairan yang terdampak perang secara vital.
"Iran sekarang berada dalam posisi kemenangan dan superioritas. Republik Islam (Iran) telah menyatakan syarat-syaratnya untuk memecah kebuntuan saat ini, dan sekarang giliran Amerika Serikat untuk mengambil keputusan mengenai masalah ini," kata Javani, Brigadir Jenderal IRGC.
Kesiapan militer Iran juga ditegaskan kembali guna mengantisipasi pergerakan dari pasukan lawan. Pihak IRGC memastikan respons yang jauh lebih kuat dan tidak terduga akan langsung diluncurkan jika musuh kembali melakukan kesalahan strategi.
Di sisi lain, laporan dari media Barat seperti New York Times dan Axios menyebutkan proses negosiasi masih bergulir. Trump dilaporkan telah mengirimkan draf revisi kerangka kerja perdamaian dengan persyaratan yang lebih ketat, meskipun detail perubahan tersebut belum dipublikasikan.
Adapun prioritas utama Trump mencakup penghentian pengembangan senjata nuklir oleh Iran serta pembukaan kembali akses navigasi Selat Hormuz. Jalur pelayaran internasional tersebut efektif lumpuh total sejak awal pertempuran dimulai.
Merespons dinamika tersebut, pihak perunding dari Teheran menegaskan sikap diplomasi mereka yang tidak akan melunak sebelum tuntutan mendasar terpenuhi.
"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah ditegakkan," tegas Mohammad Bagher Ghalibaf, Perunding Utama Iran.