Inggris Peringatkan Ancaman AI dalam Konflik Siber dengan Rusia

Share

Badan intelijen komunikasi Inggris GCHQ memperingatkan bahwa negara Barat berisiko kalah dalam konflik siber melawan Rusia akibat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang masif, Senin (1/6/2026), dilansir dari Detik iNET.

Direktur GCHQ Anne Keast-Butler menyatakan Inggris beserta sekutunya kini berada di antara situasi perdamaian dan perang karena intensifikasi aktivitas hibrida Rusia. Ancaman ini muncul di tengah estimasi kematian tentara Rusia yang mendekati angka 500.000 jiwa di Ukraina.

Pihak berwenang dari sejumlah negara seperti Swedia, Polandia, Denmark, dan Norwegia ikut mendeteksi peretas terafiliasi Rusia membidik infrastruktur vital. Bulan lalu, Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris Richard Horne turut mengidentifikasi Rusia, China, dan Iran sebagai aktor serangan siber paling serius.

"Saya menghabiskan tiga dekade bekerja di bidang keamanan nasional dan risiko salah perhitungan saat ini adalah yang tertinggi yang pernah saya lihat," ujar Anne Keast-Butler, Direktur GCHQ.

Keast-Butler menambahkan bahwa korporasi teknologi global saat ini terus meluncurkan inovasi AI secara cepat tanpa mengantisipasi dampak jangka panjangnya.

"AI adalah kekuatan tak terhentikan dan membawa peluang besar. Namun, ia juga merupakan kekuatan yang membawa berbagai risiko," sebut Anne Keast-Butler, Direktur GCHQ.

Moskow dituduh menargetkan infrastruktur kritis, sistem demokrasi, rantai pasok, kepercayaan publik, hingga melakukan sabotase dari dasar laut hingga ruang siber. Saat ini, intelijen Inggris berfokus mengawasi pergerakan Rusia terhadap kabel telekomunikasi dan pipa energi bawah laut.

"Rusia terus meningkatkan aktivitas hibrida harian terhadap Inggris dan Eropa, membentang dari dasar laut hingga ruang siber," ungkap Anne Keast-Butler, Direktur GCHQ.

Selain ancaman Rusia, kemajuan teknologi China yang kini menjadi adikuasa sains juga mempersempit momentum bagi Barat untuk memimpin. Kompetisi ini merambah hingga ke luar angkasa melalui peluncuran ribuan satelit militer dan sipil.

"Baik China maupun Rusia berinvestasi besar-besaran untuk menyokong ambisi perdamaian maupun perang mereka," cetus Anne Keast-Butler, Direktur GCHQ.

GCHQ kini tengah merancang sistem pertahanan berupa agentic AI mutakhir yang berfungsi sebagai perisai siber nasional guna melindungi sektor bisnis dan infrastruktur Inggris.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author