Sektor Kecerdasan Buatan Melahirkan Deretan Miliarder Muda di Silicon Valley

Share

Lonjakan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) melahirkan deretan miliarder baru berusia 20-an hingga 30-an tahun yang menguasai aset berlimpah di Silicon Valley, California. Pertumbuhan valuasi perusahaan AI yang amat cepat menjadi pendorong utama munculnya para miliarder muda tersebut. Data Forbes mencatat ada lebih dari 80 miliarder sektor AI dengan total kekayaan mencapai USD 2,9 triliun.

Sebanyak 45 orang di antaranya baru berhasil masuk ke dalam daftar kaya raya tersebut pada tahun lalu. "Kami melihat banyak orang berusia 20-an, 30-an, dan 40-an memiliki akses ke dana besar. Demografinya menjadi lebih muda karena betapa cepatnya valuasi perusahaan-perusahaan tersebut tumbuh," ujar Alexander Fromm Lurie, agen real estat San Francisco di City Real Estate.

Pertumbuhan kekayaan ini terbukti dari jajaran pendiri dan investor startup teknologi. Lucy Guo (31) mengumpulkan kekayaan USD 1,3 miliar setelah mendirikan ScaleAI pada usia 21 tahun. Pengusaha wanita ini menggeser Taylor Swift sebagai miliarder wanita termuda yang merintis kekayaan sendiri berkat kepemilikan 5 persen saham di ScaleAI yang valuasinya melonjak ke angka USD 29 miliar.

Di sisi lain, investor AI Leopold Aschenbrenner (24) mencatatkan estimasi kekayaan bersih USD 300 juta melalui dana lindung nilai Situational Awareness LP. Dana investasinya beraset USD 45 miliar pada puncak performanya berkat kepemilikan saham senilai USD 5 miliar di Anthropic. Tiga mantan teman sekelas SMA San Jose, yakni Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha yang berusia 23 tahun, turut menjadi miliarder self-made setelah meluncurkan Mercor. Putaran pendanaan senilai USD 350 juta melesatkan valuasi Mercor hingga USD 10 miliar dan memberi kekayaan masing-masing sekitar USD 2,2 miliar.

Mantan engineer Scale AI, Steven Hao (30), mendirikan Cognition AI yang meluncurkan agen kode otomatis Devin. Pendanaan pesat meningkatkan valuasi Cognition mendekati USD 10,2 miliar dan memberi Hao kekayaan bersih sekitar USD 1,3 miliar. Sementara itu, mantan peneliti Google dan OpenAI, Aravind Srinivas (32), mendirikan mesin penjawab Perplexity yang mencapai valuasi USD 20 miliar pada 2025. Srinivas yang memegang kekayaan USD 2,1 miliar kini memfokuskan modalnya sebagai angel investor pada startup teknologi tahap awal.

Pendiri xAI, Yuhuai Wu (31), juga mencatatkan lonjakan kekayaan drastis setelah SpaceX mengintegrasikan perusahaannya dengan valuasi gabungan USD 1,25 triliun. Perkembangan pesat pasar AI ini diperkirakan terus berlanjut seiring rencana penawaran umum perdana (IPO) sejumlah perusahaan bernilai tinggi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author