Generasi Muda AS Kian Tidak Percaya pada Bos AI dan Eksekutif Teknologi
Generasi muda di Amerika Serikat menunjukkan tingkat krisis kepercayaan yang tinggi terhadap para pimpinan perusahaan pembuat kecerdasan buatan. Sebagian besar Gen Z dan milenial berusia 18-34 tahun menilai para eksekutif teknologi tersebut tidak dapat diminta pertanggungjawaban dalam pengembangan kecerdasan buatan. Kondisi ini terungkap dari hasil survei terbaru CNBC bersama Generational Labs yang melibatkan 1.088 anak muda di AS, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Dalam penelitian tersebut, responden diminta menilai tingkat tanggung jawab sembilan pimpinan perusahaan teknologi terkemuka. CEO Microsoft Satya Nadella menjadi sosok yang mengantongi tingkat kepercayaan paling tinggi dibanding pimpinan lainnya. Meski demikian, angka ketidakpercayaan terhadap Nadella tetap mendominasi dengan persentase mencapai 65 persen, sementara yang memercayainya hanya 35 persen.
Tingkat ketidakpercayaan responden makin melonjak pada sosok eksekutif kecerdasan buatan papan atas lainnya. CEO OpenAI Sam Altman mencatatkan angka ketidakpercayaan sebesar 69 persen, di mana produk buatannya sempat mengalami insiden meretas sejumlah layanan daring seperti Hugging Face.
Pimpinan SpaceXAI Elon Musk mengekor di posisi berikutnya dengan tingkat ketidakpercayaan publik sebesar 70 persen. Sementara itu, CEO Meta Mark Zuckerberg dan CEO Nvidia Jensen Huang sama-sama mengantongi angka ketidakpercayaan mencapai 71 persen. Sentimen negatif juga membayangi CEO Alphabet Sundar Pichai yang tidak dipercayai oleh 74 persen responden. Adapun CEO Anthropic Dario Amodei mencatatkan angka ketidakpercayaan 76 persen, berdekatan dengan peristiwa lepas kendalinya model kecerdasan buatan milik Anthropic saat pengujian.
Tingkat ketidakpercayaan tertinggi dalam survei ini diraih oleh dua petinggi Palantir, yakni Chairman Peter Thiel sebesar 79 persen dan CEO Alex Karp sebesar 81 persen. Perusahaan ini memang diterpa berbagai kontroversi, salah satunya karena memasok sistem intelijen berbasis kecerdasan buatan kepada Kementerian Pertahanan AS. Selain skeptis terhadap para pemimpin industri, generasi muda AS juga mengkhawatirkan dampak langsung teknologi ini pada masa depan mereka. Sebanyak 45 persen responden meyakini kecerdasan buatan akan berdampak negatif pada karier mereka, dan hanya 10 persen yang percaya teknologi tersebut membawa manfaat.
Kondisi ini mendorong munculnya desakan untuk memperketat regulasi serta membatasi ekspansi infrastruktur pendukungnya. Sebanyak 40 persen responden mendesak pemerintah federal menyusun aturan pengendalian kecerdasan buatan, sementara 60 persen meminta pembangunan pusat data diperlambat.