IHSG dan Rupiah Melemah Imbas Sentimen Global Serta Risiko Domestik

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami kejatuhan signifikan pada perdagangan Rabu (3/6/2026) akibat sentimen eksternal global serta evaluasi risiko domestik oleh para investor.

Berdasarkan data RTI Infokom yang dilansir CNN Indonesia, IHSG ditutup melemah 254,36 poin atau minus 4,11 persen ke level 5.941 setelah sempat anjlok ke titik terendah harian di level 5.841,996 pada sesi perdagangan tersebut.

Pelemahan ini berlanjut pada Kamis (4/6/2026) pagi saat bursa saham dibuka turun 21,5 poin atau 0,36 persen ke level 5.919,56, sementara mata uang rupiah resmi menembus di atas level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi pasar modal Indonesia kian tertekan akibat aksi jual bersih oleh investor asing yang mencapai Rp864 miliar dalam sehari, dengan penjualan terbesar melanda saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk sebesar Rp686 miliar dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk senilai Rp428 miliar.

"Menurut kami, pasar saat ini tidak lagi mempertanyakan kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan mempertanyakan kredibilitas Indonesia," ujar Liza Camelia Suryanata, Head of Research di Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Liza menjabarkan lima kekhawatiran utama investor, termasuk tata kelola kebijakan pasca-outlook negatif Moody's dan Fitch, tekanan rupiah, penyusutan kelas menengah, serta risiko komunikasi kepemimpinan.

"Serta yang paling hot atau viral belakangan ini adalah meningkatnya leadership and policy communication risk di mata investor global," ucap Liza Camelia Suryanata.

Meskipun demikian, ia mencatat bahwa Indonesia saat ini masih mempertahankan status investment grade dan lembaga pemeringkat S&P tetap memberikan prospek yang stabil untuk domestik.

"Mungkin saja, tetapi belum tentu," ucap Liza Camelia Suryanata saat menanggapi potensi fase penurunan peringkat secara struktural.

Ia memaparkan data bahwa bursa negara berkembang lain justru mencatat penguatan, sementara Indonesia ETF mencatat imbal hasil minus 28,6 persen sejak awal 2025.

"With data lain, investor global tidak sedang meninggalkan emerging markets, mereka secara spesifik sedang mengurangi eksposur terhadap Indonesia," ucap Liza Camelia Suryanata.

Kini fokus perhatian pasar bergeser ke agenda krusial pertengahan Juni, termasuk ulasan indeks global dari MSCI dan FTSE Russell yang akan menguji kredibilitas pasar keuangan nasional.

"Masalahnya, kebijakan Indonesia yang tidak bijak suka muncul tiba-tiba secara misterius dan seringkali malah memberikan another blow to the market," ungkap Liza Camelia Suryanata.

Ia menambahkan situasi saat ini membuat pelaku pasar tidak lagi sekadar mencari alasan untuk melepas portofolio mereka di Indonesia.

"Pertanyaan yang harus dijawab investor bukan lagi mengapa IHSG jatuh?, melainkan apakah pasar saat ini sedang menilai risiko Indonesia secara objektif, atau sudah mulai menghukum Indonesia lebih keras daripada yang seharusnya," ungkap Liza Camelia Suryanata.

Faktor eksternal seperti ketegangan baru Amerika Serikat dan Iran serta usulan tambahan tarif dagang oleh Donald Trump turut menekan pasar Asia secara keseluruhan.

"Para pelaku pasar juga terus melanjutkan perkembangan konflik AS-Iran setelah ketegangan kembali meningkat," ungkap Maximilianus Nicodemus, Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas.

Dari sisi domestik, penyusutan surplus neraca perdagangan per April ke level terendah sejak 2020 serta kenaikan inflasi tahunan Mei menjadi 3,08 persen ikut memperparah sentimen pasar.

"Pelemahan ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal. Yield US Treasury yang masih tinggi, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, harga energi, dan ketegangan geopolitik memang menekan aset negara berkembang," ujar Syafruddin Karimi, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas.

Syafruddin menilai penurunan ini terjadi karena akumulasi kelemahan kepercayaan struktural, di mana pelaku pasar mulai menghitung kenaikan premi risiko di Indonesia.

"Jadi, Indonesia masih menarik secara potensi, tetapi kurang meyakinkan secara risiko. Investor tidak meninggalkan Indonesia karena peluangnya hilang, mereka menahan diri karena harga risiko Indonesia naik," terangnya.

Ia mengingatkan pemerintah untuk memutus lingkaran negatif antara pelemahan kurs, pelarian arus modal asing, dan penurunan pasar saham agar tidak berdampak jangka panjang.

"Rupiah yang melemah dalam jangka panjang, IHSG yang jatuh setelah sempat menguat, forward USD/IDR yang mengarah ke atas Rp18.000, serta indeks kepercayaan pasar Indonesia yang rendah menunjukkan masalah persepsi yang sudah bersifat struktural," kata Syafruddin Karimi.

Menurutnya, dampak pelemahan mata uang ini secara nyata akan menaikkan beban biaya impor serta pembayaran utang valuta asing korporasi.

"Rupiah yang lemah menaikkan biaya impor dan utang valas, lalu menekan laba emiten. IHSG yang turun memperburuk sentimen investor. Sentimen yang memburuk kembali menekan rupiah," pungkas Syafruddin Karimi.

Analis Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi menambahkan tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak mentah, pembayaran dividen, dan utang menjadi pemicu utama depresiasi rupiah.

"Intinya di sini adalah tentang kebutuhan dolar yang cukup tinggi. Untuk impor komoditas, terutama adalah minyak mentah, untuk bayar utang. Kemudian pembagian dividen, itu juga menggunakan dolar. Kemudian masyarakat yang berpindah tabungannya dari konvensional ke valuta asing. Yang membuat IHSG ini mengalami penurunan," terang Ibrahim Assuaibi.

Ibrahim menyatakan kondisi pasar saham ini diperkirakan terus tertekan hingga pemerintah bisa memperoleh pinjaman baru dari lembaga keuangan internasional.

"Pada saat Indonesia membutuhkan utang kemudian minta ke IMF, kan persyaratannya banyak. Salah satunya adalah harus menghilangkan subsidi. Nah, ini yang ditakutkan oleh pemerintah, sehingga pemerintah pun juga serba salah," katanya.

Sementara itu, Ronny P selaku Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution mengingatkan pemerintah untuk fokus membangun kembali keyakinan pasar melalui kepastian regulasi dan kredibilitas fiskal.

"Persoalannya adalah investor global saat ini sedang berada dalam mode sangat selektif atau risk-off. Dalam situasi seperti itu, negara yang mampu menawarkan kombinasi antara stabilitas, kepastian kebijakan, dan prospek keuntungan yang jelas akan lebih cepat memperoleh kembali arus modal," terang Ronny P.

Pemerintah bersama Bank Indonesia diharapkan terus memperkuat koordinasi struktural untuk meredam kepanikan pasar.

"Tantangan Indonesia saat ini bukan kekurangan potensi, tapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi keyakinan investor yang konkret dan terukur," lanjut Ronny P.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author