IHSG dan Rupiah Ambles ke Level Terendah Sepanjang 2026
Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan hebat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah anjlok tajam pada perdagangan sesi pertama hari Jumat, 5 Juni 2026.
Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif domestik terkait pembengkakan defisit fiskal serta neraca transaksi berjalan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari Bloomberg Technoz, IHSG ditutup merosot 2,53 persen ke level 5.692 pada jeda perdagangan Sesi I.
Sepanjang sesi tersebut, indeks bergerak pada rentang nilai terendah 5.673 hingga posisi tertinggi di 5.860.
Transaksi perdagangan di lantai bursa melibatkan 25,25 miliar lembar saham dengan nilai mencapai Rp21,08 triliun dari 1,32 juta kali frekuensi.
Kondisi ini menempatkan IHSG sebagai indeks saham dengan performa terlemah di Bursa Asia sepanjang tahun 2026 setelah mencatat penurunan akumulatif sebesar 34,17 persen secara year-to-date.
Penurunan tajam tidak hanya melanda indeks utama, karena indeks LQ45 ikut tersungkur 2,46 persen ke level 566,6.
Seluruh sektor saham membukukan pelemahan dengan penurunan terdalam dialami oleh sektor transportasi sebesar 4,44 persen, sektor keuangan sebesar 4,07 persen, dan sektor energi yang runtuh hingga 3,93 persen.
Beberapa emiten yang menjadi top losers di antaranya PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) amblas 14,8 persen, PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk (WEHA) jatuh 14,7 persen, dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) ambruk 14,5 persen.
Sentimen negatif utama yang menekan pasar saham berasal dari depresiasi nilai tukar rupiah yang menyentuh rekor All Time Low (ATL) baru di hadapan dolar Amerika Serikat.
Mata uang rupiah di pasar spot per pukul 13:30 WIB melemah hingga mencapai level Rp18.042 per dolar AS, bahkan sempat terjerumus ke posisi Rp18.074 per dolar AS pada sesi intraday.
Data ekonomi menunjukkan Neraca Pembayaran Indonesia per Kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar, membengkak dari kuartal sebelumnya yang sebesar US$6,07 miliar.
Selain itu, transaksi berjalan berbalik defisit hingga US$4 miliar atau 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto, padahal pada kuartal sebelumnya masih mencatat surplus senilai US$2,5 miliar.
Kekhawatiran investor diperparah oleh ketidakpastian kebijakan yang memicu aksi lepas aset obligasi domestik, sehingga memicu terjadinya inversi yield pada Surat Utang Negara.
Imbal hasil SUN tenor 1 tahun melonjak hingga 7,18 persen, melampaui yield tenor 10 tahun yang berada di posisi 6,85 persen dalam struktur kurva yang tidak normal.
Menanggapi situasi ini, pengamat ekonomi menilai pergerakan kurva imbal hasil yang terbalik mengindikasikan adanya kecemasan pasar terhadap risiko jangka pendek.
“Jika kurva menjadi terbalik, artinya pasar lebih khawatir terhadap risiko jangka pendek, terutama kebutuhan likuiditas, arah BI Rate, risiko arus modal keluar, dan kebutuhan pemerintah menerbitkan SBN di tengah pasar yang rapuh,” mengutip paparan Josua, Chief Economist Bank Permata.