IHSG Merosot 3,46 Persen ke Level Terendah dalam Setahun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok sebesar 3,46 persen ke level 6.370,68 pada penutupan perdagangan hari Selasa (19/5/2026). Penurunan tajam di Bursa Efek Indonesia ini dipicu oleh akumulasi sentimen kebijakan domestik serta eskalasi geopolitik global.
Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, posisi penutupan tersebut menjadi level terendah sepanjang satu tahun terakhir. Penurunan ini sekaligus menandai koreksi harian ketujuh yang melebihi ambang batas 3 persen sejak bulan Mei 2025.
Data historis mencatat terdapat 238 hari perdagangan dalam periode 20 Mei 2025 hingga 19 Mei 2026. Sebanyak tujuh hari di antaranya mencatatkan pelemahan indeks di atas 3 persen, atau setara dengan 2,9 persen dari total hari perdagangan.
Konsentrasi koreksi tajam tersebut sebagian besar bertumpuk pada awal tahun 2026. Lima dari tujuh koreksi di atas 3 persen terjadi dalam rentang Januari hingga Maret 2026, dengan tiga kejadian berlangsung beruntun dalam periode 10 hari kalender pada Maret 2026.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa bursa sepanjang Mei hingga Desember 2025 yang tidak pernah mengalami penurunan di bawah minus 3 persen. IHSG bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Faktor penyesuaian bobot saham Indonesia oleh MSCI menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi, termasuk koreksi sedalam 7,35 persen pada 28 Januari 2026 menyusul isu transparansi kepemilikan free-float.
Sementara itu, penurunan pada Selasa (19/5/2026) dipicu kabar rencana pemerintah membentuk badan ekspor untuk supervisi komoditas. Sentimen eksternal berupa ketegangan Amerika Serikat dan Iran turut menaikkan harga minyak dunia hingga mencapai level 120 dolar AS.
Pergerakan indeks mencerminkan koreksi sebesar 26,32 persen jika dihitung dari pembukaan bursa tanggal 2 Januari hingga penutupan hari ini. Secara tahunan terhadap posisi 20 Mei 2025, performa indeks masih tercatat minus 10,35 persen.
Tekanan pasar modal dalam negeri semakin diperberat oleh aksi jual bersih investor asing. Akumulasi net sell asing mencapai sekitar Rp41,28 triliun per 18 Mei 2026, bersamaan dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp17.700 per dolar AS.