IHSG Menguat ke 6.236 dan DRMA Pamerkan Charger EV di GIIAS 2026
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi perdagangan Jumat (31/7) di zona hijau. Indeks mencatatkan kenaikan sebesar 0,80 persen hingga menyentuh level 6.236,13, seperti dilansir dari Detik Finance.
Pergerakan IHSG yang positif disokong oleh apresiasi harga saham BBRI, ASII, dan AMMN. Sebaliknya, laju indeks tertahan oleh pelemahan saham BBCA, TLKM, serta ADRO. Mayoritas sektor saham atau 10 dari 11 sektor menguat, dipimpin sektor Basic Industry sebesar 2,54 persen.
Kondisi pasar reguler menunjukkan aksi jual bersih investor asing senilai Rp34,82 miliar, sedangkan akumulasi di seluruh pasar mencapai Rp250,53 miliar. Di luar negeri, bursa AS melaju positif usai Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq menguat masing-masing 0,53 persen, 0,70 persen, dan 1,00 persen.
Di sisi korporasi, PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) melakukan ekspansi ke ekosistem kendaraan listrik. DRMA mengenalkan dua perangkat pengisian daya roda dua ber-TKDN 50 persen di ajang GIIAS 2026 di ICE BSD, Tangerang, yaitu Fast Charging 2W dan Buffer Charging.
Inisiatif DRMA menjadi sarana diversifikasi usaha dari bisnis komponen kendaraan bermesin pembakaran internal. Emiten ini menargetkan pertumbuhan penjualan 10 persen pada 2026, setelah membukukan penjualan Rp3,16 triliun di semester I-2026 atau tumbuh 13,82 persen secara tahunan.
Sementara itu, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) memperluas kawasan Serpong CBD lewat dua proyek komersial pada paruh kedua 2026. Proyek tersebut mencakup The Hood seluas 10 hektare yang dijadwalkan beroperasi Desember 2026, serta Strozzi Commercial dengan penawaran mulai Rp4 miliar per unit.
Capaian marketing sales SMRA pada kuartal I-2026 menembus Rp1,20 triliun, tumbuh 37 persen secara tahunan. Perseroan mematok target marketing sales Rp5,20 triliun pada 2026 dengan menyiapkan belanja modal Rp2 triliun dari kas internal dan pinjaman bank.
Aksi korporasi lain datang dari PT Elnusa Tbk (ELSA) yang mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) maksimal Rp100 miliar. Mengacu POJK Nomor 29 Tahun 2023, buyback memanfaatkan dana kas internal dan dijadwalkan berlangsung pada 3 Agustus hingga 2 November 2026.
Kinerja keuangannya mendukung rencana buyback setelah laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk semester I-2026 melonjak 29,19 persen menjadi Rp434,71 miliar. Pada periode sama, pendapatan ELSA terkerek 8,92 persen menjadi Rp7,59 triliun.
Apabila alokasi dana buyback terserap penuh, aset perseroan diperkirakan terkoreksi menjadi Rp11,30 triliun. Penurunan juga akan terjadi pada kas dan setara kas menjadi sekitar Rp2,79 triliun, disusul penyesuaian ekuitas menjadi Rp5,33 triliun akibat pencatatan saham treasuri.