IHSG Melemahlah ke Level 6.091 Saat Investor Asing Catat Net Buy

Share

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (29/7). Dikutip dari Detik Finance, indeks bursa saham domestik tersebut mengalami penurunan sebesar 0,64% menuju posisi 6.091,39.

Pelemahan indeks terjadi lantaran mayoritas sektor saham terkoreksi. Saham MPRO, BREN, dan MORA tercatat memimpin daftar penurunan penggerak pasar. Di sisi lain, laju IHSG masih ditopang oleh penguatan saham BBCA, BRPT, serta TPIA.

Aktivitas pasar menunjukkan investor asing membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp183,81 miliar pada pasar reguler. Meski demikian, secara akumulasi di seluruh pasar, pemodal asing merealisasikan beli bersih (net buy) hingga mencapai Rp8,97 triliun.

Sebanyak 8 dari 11 sektor saham mengakhiri perdagangan dengan penurunan. Sektor properti menjadi penekan paling tajam setelah merosot 2,75%. Sebaliknya, sektor teknologi berhasil menguat tipis 0,18% sekaligus menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi.

Tekanan pada pasar domestik berbanding lurus dengan bursa saham Amerika Serikat yang juga berakhir negatif. Indeks Dow Jones tercatat melemah 2,19%, S&P 500 tergerus 1,52%, dan Nasdaq meluncur 1,74%. Pergerakan ini dipengaruhi kecermatan pelaku pasar terhadap rilis laporan keuangan semester I-2026 dan arah kebijakan suku bunga The Fed.

Seiring pelemahan Wall Street, instrumen ETF EIDO merosot 0,33%. Sementara itu, MSCI Indonesia bertahan relatif stabil lewat kenaikan tipis 0,08%.

Di tingkat emiten, PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) melanjutkan ekspansi kapasitas produksi melalui pembangunan tiga pabrik baru air minum dalam kemasan (AMDK) di Palu, Pontianak, dan Pekanbaru. Unit di Palu diproyeksikan mulai beroperasi pada kuartal III-2026, sedangkan dua fasilitas lainnya menyusul di kuartal IV-2026.

Tambahan fasilitas produksi tersebut akan melengkapi portofolio CLEO menjadi 32 unit pabrik. Operasional perseroan didukung lebih dari 450 jaringan distribusi internal dan sekitar 11.000 mitra distribusi. Jaringan distribusi internal ditargetkan menembus 500 titik sampai akhir tahun untuk memperluas pemasaran dan efisiensi.

Kinerja keuangan CLEO pada kuartal I-2026 mencatatkan penjualan senilai Rp774,40 miliar atau bertumbuh 15,80% secara tahunan. Sepanjang 2025, perseroan merealisasikan penjualan bersih Rp2,83 triliun, EBITDA Rp783 miliar, serta laba bersih Rp389,51 miliar di tengah naiknya biaya operasional akibat penambahan depo dan pabrik.

Lompatan kinerja signifikan berhasil dibukukan PT Timah Tbk (TINS) sepanjang semester I-2026. Pendapatan TINS melambung 146,92% menjadi Rp10,42 triliun, didorong lonjakan volume penjualan logam timah 85,13% hingga 10.984 metrik ton serta peningkatan harga jual rata-rata menjadi US$49.794 per metrik ton.

Pencapaian pendapatan tersebut mendongkrak laba usaha TINS menjadi Rp3,46 triliun dan EBITDA sebesar Rp3,90 triliun. Hasilnya, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk meroket 804,70% menjadi Rp2,71 triliun dibanding semester I-2025. Angka ini setara 169% dari target laba bersih tahun buku 2026 senilai Rp1,61 triliun.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengagendakan program buyback saham tahap kedua dengan alokasi dana maksimal Rp627 miliar dari kas internal. Langkah ini menyusul buyback pertama 2026 yang menyerap anggaran Rp905,48 miliar untuk 77,86 juta saham. Pembelian kembali saham tahap kedua ini dijadwalkan berlangsung pada 27 Juli sampai 26 Oktober 2026.

Mengacu laporan proforma per 31 Mei 2026, eksekusi buyback diperkirakan membuat total aset BBNI menjadi Rp1.364,74 triliun dan total ekuitas sebesar Rp160,37 triliun. Proyeksi laba per saham (EPS) berpotensi naik tipis ke level Rp244, sedangkan imbal hasil atas ekuitas (ROE) diperkirakan berada di posisi 14,52%.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ihsg Investor Asing saham
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author