IHSG Berpotensi Melemah Menuju Level Psikologis 6.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih mengalami koreksi pada perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (22/5/2026), setelah secara teknikal berhasil menutup gap di posisi 6.092. Laju indeks domestik ini terus mengalami tekanan jual di tengah minimnya sentimen positif, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Sebelum proyeksi penurunan ini terjadi, IHSG sudah lebih dulu ditutup melemah pada level 6.094 dalam perdagangan hari Kamis (21/5) kemarin. Tekanan jual yang kembali melanda pasar saham disebabkan oleh akumulasi sentimen negatif yang datang secara bertubi-tubi.
"Jika tekanan jual berlanjut, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level psikologis di 6.000, dan support kuat berikutnya di level 5.882," kata Phintraco Sekuritas dalam risetnya pada Jumat (22/5/2026).
Kondisi eksternal dinilai kurang kondusif akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta penutupan Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak mentah lebih lama dari perkiraan. Bersamaan dengan itu, beberapa kebijakan baru dari pemerintah direspon negatif oleh investor karena dianggap berdampak buruk terhadap iklim investasi jangka pendek, meskipun kebijakan tersebut kemungkinan bertujuan menaikkan pendapatan negara demi menutup defisit APBN.
Faktor negatif lain yang membayangi pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia adalah adanya potensi dari rebalancing FTSE dan MSCI. Selain itu, saham sektor perbankan diperkirakan turut tertekan menyusul pernyataan Fitch Ratings yang menyebut peringkat jangka panjang bank Himbara dipengaruhi kuat oleh dukungan pemerintah, di mana peringkatnya berada pada level BBB/Negatif yang mencerminkan risiko kapasitas fiskal pemerintah jika tekanan meningkat.
"Sedangkan S&P Global Ratings menyatakan bahwa rencana Indonesia untuk mengendalikan ekspor komoditas secara terpusat berpotensi merugikan ekspor yang dapat menekan pendapatan negara dan berdampak terhadap neraca pembayaran. Sehingga kami masih mencermati saham tambang BUMN dan mewaspadai risiko tekanan lanjutan pada saham tambang non-BUMN," lanjut riset tersebut.