IHSG Anjlok ke Level Terendah Sejak Tahun 2021
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam sebesar 4,11 persen hingga menyentuh posisi 5.941 pada penutupan perdagangan hari Rabu (3/6/2026).
Penurunan tajam ini tercatat sebagai level terendah sejak tahun 2021 atau dalam lima tahun terakhir perdagangan saham, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Berdasarkan data kompilasi Bloomberg, pelemahan IHSG menjadi yang terdalam di bursa saham dunia pada hari ini mendahului beberapa indeks global lainnya.
Swiss Market Index SWI (Swis) melemah 2,57 persen, Hang Seng (Hong Kong) turun 1,56 persen, S&P/CLX IPSA TR (Chile) merosot 1,48 persen, dan Dubai Financial Market General Index (UEA) berkurang 1,11 persen.
Selanjutnya, MSX30 Index (Oman) mencatat penurunan 1,05 persen, EGX 30 INDEX (Mesir) turun 1,04 persen, serta DAX 40 GER40 (Jerman) melemah 0,97 persen.
Tekanan jual yang masif membuat indeks domestik terus terpuruk sejak pagi hingga siang hari pada rentang pergerakan di level 6.213 sampai posisi terendah 5.841.
Transaksi perdagangan saham mencatatkan volume sebesar 40,17 miliar saham dengan nilai transaksi Rp25,25 triliun dari 2,76 juta kali frekuensi perdagangan.
Kondisi pasar didominasi oleh penurunan 692 saham, sementara hanya ada 69 saham yang menguat dan 54 saham lainnya tidak mengalami perubahan posisi.
Sektor barang baku, energi, dan infrastruktur menjadi beban utama indeks setelah masing-masing merosot tajam sebesar 9,04 persen, 5,61 persen, dan 5,04 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan terkait penurunan indeks saham domestik ini setelah menghadiri rapat di Gedung DPR.
"Jangan takut, fundamental ekonomi bagus Jadi ini mungkin ada short, ketakutan [jangka pendek]," kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Purbaya memberikan penjelasan penunjang bahwa penerimaan negara dari sektor perpajakan saat ini berjalan dengan akselerasi yang cukup kencang.
Faktor pendukung lain terlihat dari tingkat hunian atau okupansi hotel serta sektor hiburan masyarakat yang diklaim masih terjaga dengan baik.
"Daya beli masyarakat masih cukup kuat Itu akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita Jadi nggak usah takut kita akan jeblok atau apa," kata Purbaya, Menteri Keuangan.
Pemerintah memproyeksikan bahwa ketahanan fondasi ekonomi nasional yang terjaga berpotensi mendorong penguatan nilai tukar rupiah hingga mencapai level 10.000.