Hasil Review MSCI Tekan IHSG ke Titik Terlemah Sejak 2020

Share

Pengumuman hasil ulasan MSCI Annual Market Classification Review memicu sentimen negatif di pasar saham dalam negeri. Kondisi ini membuat performa Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) tertekan hingga menyentuh titik terlemahnya sejak tahun 2020, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.

Sentimen tersebut memperparah akumulasi penurunan indeks sepanjang tahun 2026. Tercatat, IHSG sudah mengalami koreksi sebesar 30,13% secara point-to-point.

Ketika sejumlah bursa di kawasan Asia lain masih melaju di zona hijau, IHSG justru menunjukkan arah sebaliknya. Indeks saham domestik terpuruk di zona merah secara year-to-date bersama Hang Seng (Hong Kong), SENSEX (India), dan KLCI (Malaysia).

Sebaliknya, mayoritas bursa regional berhasil menguat sepanjang tahun 2026. Bursa yang menguat tersebut meliputi KOSPI (Korea Selatan), TW Weighted Index (Taiwan), NIKKEI 225 (Jepang), SETI (Thailand), Straits Times (Singapura), Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Shanghai Composite (China), dan PSEI (Filipina).

Berdasarkan data Bloomberg per Kamis (25/6/2026), valuasi Price Book Value (PBV) IHSG berada pada posisi 1,55 kali. Sementara itu, estimated Price Earning Ratio (PER) IHSG berada di level 9,19 kali.

Secara umum, angka valuasi IHSG saat ini sudah tergolong relatif murah jika dibandingkan dengan kawasan sekitarnya.

Berikut adalah rincian gambaran valuasi pada beberapa bursa saham utama di Asia:

Daftar Valuasi PBV dan PER Bursa Saham Utama Asia per Juni 2026
No Bursa Saham Valuasi PBV PER
1 TW Weighted Index (Taiwan) 4,42 x 22,63 x
2 NIKKEI 225 (Jepang) 3,23 x 24,34 x
3 SENSEX (India) 3,08 x 19,64 x
4 KOSPI (Korea Selatan) 2,41 x 9,27 x
5 Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam) 2,13 x 13,44 x
6 Straits Times (Singapura) 1,67 x 16,21 x
7 KLCI (Malaysia) 1,59 x 14,88 x
8 Shanghai Composite (China) 1,59 x 14,59 x
9 IHSG 1,55 x 9,19 x
10 SETI (Thailand) 1,43 x 15,9 x
11 PSEI (Filipina) 1,24 x 9,23 x

Meskipun nilai valuasi IHSG terlihat menarik, pasar saham Indonesia dinilai masih dibayangi oleh risiko ketidakpastian. MSCI dalam laporan terbarunya memberikan catatan khusus terkait transparansi free float serta indikasi adanya praktik perdagangan yang terkoordinasi.

Riset dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia mengungkapkan bahwa MSCI membuka peluang untuk menurunkan status klasifikasi pasar Indonesia menjadi Frontier Market jika tidak ada perbaikan yang berarti hingga November mendatang. Risiko ini berpotensi memicu pelemahan IHSG lebih lanjut.

Pihak Mirae Asset juga menambahkan bahwa risiko pasar tersebut menjadi faktor penahan minat bagi investor asing. Indonesia sebenarnya masuk dalam jajaran pasar bermodal murah dengan forward P/E sebesar 9,5 kali, berbanding rata-rata Emerging Markets sebesar 12,2 kali.

"Namun, valuasi yang murah saja belum cukup menarik kembali minat investor asing selama risiko terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar masih belum sepenuhnya terselesaikan," sebut Mirae Asset.

Risiko yang bersifat binary ini diprediksi membuat kembalinya minat modal asing akan berlangsung secara selektif dan tidak menyeluruh. Akibat penundaan risiko tersebut, banyak pengelola dana aktif diperkirakan tetap mempertahankan posisi underweight terhadap Indonesia hingga tinjauan MSCI pada November nanti.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author