Harga Bitcoin Tembus 65 Ribu Dolar AS di Tengah Sentimen Pasar Global
Aset kripto utama Bitcoin mencatatkan lonjakan harga hingga melewati level 65.500 dolar AS pada akhir Juli 2026, yang didorong oleh pendinginan inflasi di Serikat serta menguatnya sentimen positif dari pemulihan arus modal investor institusional.
Berdasarkan data CoinMarketCap pada Senin (27/7/2026) pagi WIB, nilai Bitcoin menguat 1,44 persen dalam 24 jam terakhir ke posisi 65.390,15 dolar AS atau sekitar Rp1,17 miliar. Penguatan ini turut mengerek kapitalisasi pasar Bitcoin hingga menyentuh angka 1,31 triliun dolar AS.
Kenaikan harga pasar uang kripto ini selaras dengan menguatnya bursa saham global akibat melandainya tekanan inflasi serta ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve yang cenderung stabil. Pergerakan Bitcoin tercatat memiliki korelasi kuat sebesar 73 persen terhadap indeks S&P 500.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai penguatan aset digital terbesar ini mencerminkan dinamika industri yang semakin dewasa dan terintegrasi dengan fundamental ekonomi global.
"Pergerakan pasar kali ini menunjukkan semakin matangnya dinamika industri aset kripto, di mana pembentukan harga semakin dipengaruhi berbagai faktor fundamental, mulai dari kebijakan ekonomi, perkembangan regulasi, hingga partisipasi investor institusi," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Ia menambahkan bahwa kejelasan kerangka etika regulasi melalui CLARITY Act di Amerika Serikat memberikan angin segar bagi kepastian hukum pasar keuangan aset digital.
"Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor fundamental yang dapat mempengaruhi volatilitas pasar ke depan," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Di sisi lain, investor institusi mulai menunjukkan kebangkitan minat yang tecermin dari data SoSoValue. Produk Spot Bitcoin ETF di AS membukukan inflow bersih sekitar US$430 juta dalam kurun waktu 20 hingga 21 Juli 2026.
Meskipun demikian, pergerakan harga aset kripto ke depan masih membayangi potensi risiko dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.
Analis Reku Andri Fauzan menjelaskan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu kondisi risk-off yang menahan laju kenaikan harga aset berisiko dalam jangka pendek.
"Tekanan jual biasanya muncul dulu karena suasana risk-off, terutama ketika inflasi energi naik dan ekspektasi kebijakan moneter ikut terpengaruh," ujar Andri Fauzan, Analis Reku.
Menurut Andri, harga Bitcoin pada kuartal III 2026 diperkirakan akan berada pada fase konsolidasi di rentang 60.000 hingga 75.000 dolar AS.
Senada dengan hal tersebut, Analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengungkapkan bahwa pemulihan arus masuk dana institusional di produk ETF menjadi katalis penting yang harus dijaga keberlanjutannya.
"Prospek Bitcoin pada kuartal III 2026 masih cenderung volatil, tetapi mulai menunjukkan peluang pemulihan secara bertahap," ujar Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.
Fyqieh menegaskan bahwa arah pergerakan pasar selanjutnya akan sangat bergantung pada rilis data inflasi terkini, keputusan suku bunga Federal Reserve, serta stabilitas geopolitik global.
"Laporan moneter The Fed pada Juli 2026 masih menegaskan komitmen untuk mengembalikan inflasi menuju target 2%, sehingga kebijakan suku bunga akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi berikutnya," terang Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.
Ia juga menyoroti peran tren arus modal masuk ETF bulanan sebagai salah satu indikator vital pembentukan harga.
"Namun, skala pemulihannya masih belum konsisten, sehingga pasar perlu melihat apakah tren inflow tersebut dapat bertahan dalam beberapa pekan berikutnya," jelas Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.
Di tengah volatilitas yang masih berpotensi terjadi, para pelaku industri mengingatkan pentingnya manajemen risiko dan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
"Dalam kondisi pasar seperti saat ini, investor perlu memahami bahwa pergerakan aset kripto dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Karena itu, penting untuk tetap mengedepankan prinsip Do Your Own Research (DYOR), memahami profil risiko masing-masing aset, serta berinvestasi sesuai tujuan keuangan jangka panjang," ujar Aloysia Dian, Chief Marketing Officer Indodax.
Fokus pasar finansial global kini tertuju pada rilis kinerja keuangan emiten teknologi besar AS serta pengumuman kebijakan suku bunga acuan bank sentral akhir bulan ini.