Gempa NTT M 7,7 Pemicu Tsunami Mengakibatkan 68 Orang Meninggal
Sebanyak 68 orang dilaporkan meninggal dunia akibat bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ribuan gempa susulan terus terjadi di wilayah tersebut, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Peristiwa guncangan tektonik ini berpusat di Sesar Naik Flores (Flores Back-Arc Thrust) dengan mekanisme pergerakan naik pada kedalaman dangkal. Peringatan dini tsunami sempat diaktifkan untuk kawasan terdampak sebelum akhirnya dinyatakan berakhir dua jam setengah setelah guncangan utama.
Kawasan dengan status Siaga meliputi Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto. Sementara itu, wilayah Bima, Dompu, Wajo, dan sebagian Flores Timur ditetapkan dalam status Waspada.
Pihak BMKG terus memantau pergerakan aktivitas seismik di lokasi bencana secara berkala.
"Update gempa bumi susulan gempa Flores M 7,7 hingga tanggal 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, total gempa bumi susulan 2.119," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, kepada detikcom, Selasa (18/8/2026).
Di samping guncangan susulan berskala kecil, tercatat ada puluhan gempa yanggetarannya berukuran cukup besar dan dirasakan secara nyata oleh masyarakat setempat.
"Gempa susulan yang dirasakan sebanyak 70 kali," sambungnya.
Guncangan terbesar dari rangkaian gempa susulan tersebut mencapai magnitudo 6,2, sedangkan kekuatan terkecil berada di angka magnitudo 1,3. BMKG juga mencatat sebanyak 24 kali gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi pembaruan data terkait jumlah warga yang menjadi korban dalam musibah ini.
"Ada 68 jiwa yang meninggal," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, Senin (17/8/2026).
Meskipun data korban jiwa bertambah, pihak BNPB memastikan bahwa seluruh warga yang sebelumnya dilaporkan hilang kini telah terdata sepenuhnya.
"Tim dari Basarnas masih siaga di tujuh kabupaten terdampak. Hingga saat ini, 17 Agustus, sudah tidak ada laporan warga yang hilang di wilayah terdampak. Namun demikian, tim Basarnas tetap melakukan upaya pencarian dan menerjunkan personel secara optimal di daerah-daerah terdampak," kata Berton.