Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan Lebih Dari 1300 Orang

Share

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 orang meninggal dunia di seluruh Eropa akibat sengatan gelombang panas ekstrem yang terjadi sejak 21 Juni 2026.

Prancis menjadi wilayah yang paling parah terdampak dengan mencatat sekitar 1.000 kematian berlebih yang didominasi oleh lansia berusia 65 tahun ke atas. Suhu udara di berbagai kota di Eropa Barat bahkan telah melampaui angka 40 derajat Celsius, sehingga memicu tekanan berat pada fasilitas kesehatan setempat.

Badan Kesehatan Masyarakat Prancis memberikan laporan mengenai lonjakan angka fatalitas yang melonjak tajam dalam hitungan hari di wilayahnya.

"Sejak 24 Juni, sekitar 1.000 kematian tambahan (angka sementara yang belum final) tercatat dibandingkan dengan jumlah kematian pada periode yang sama di bulan-bulan sebelumnya," demikian pernyataan Public Health France.

Otoritas kesehatan menambahkan bahwa sebagian besar fatalitas bertumpuk pada masyarakat yang tinggal sendiri di kawasan padat penduduk seperti Île-de-France.

"Temuan ini menjadi pengingat akan pentingnya langkah-langkah solidaritas bagi mereka yang hidup sendiri atau mengalami kesepian, termasuk di wilayah perkotaan yang padat penduduk," bunyi pernyataan Public Health France.

Lembaga tersebut juga merilis rincian data tambahan mengenai sebaran wilayah terdampak serta kondisi fasilitas medis yang terus menerima panggilan darurat.

"Sejak 24 Juni, tercatat ada sekitar 1.000 kematian tambahan (angka yang belum dikonsolidasikan) dibandingkan dengan kematian yang tercatat pada bulan-bulan sebelumnya," kata badan tersebut.

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan keprihatinannya atas ketidaksiapan infrastruktur bangunan di Eropa dalam merespons cuaca ekstrem ini.

"Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini," tegas Tedros.

Di tingkat lokal, Walikota Paris Emmanuel Grégoire mengimbau warga untuk berhati-hati setelah adanya insiden warga yang tenggelam di kanal akibat mencoba menyegarkan diri secara sembarangan.

"Kami telah mengatakannya sebelumnya dan akan mengatakannya lagi: berenang di luar waktu yang diizinkan, dan di luar area yang diawasi, berbahaya," tulis Emmanuel Grégoire.

Lonjakan suhu ekstrem ini juga dilaporkan meluas ke negara lain seperti Inggris Raya yang mencatat suhu 37,3 derajat Celsius di Suffolk, serta Spanyol dan Jerman yang melewati suhu 40 derajat Celsius.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author