Kementerian ESDM Sebut BBM dari Sampah Plastik Bisa Dijual ke Masyarakat

Share

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan bahwa Bahan Bakar Minyak Terbarukan (BBMT) hasil olahan pirolisis sampah plastik dapat langsung dijual kepada masyarakat luas. Kepastian mengenai komersialisasi produk hilir ini disampaikan di sela-sela pameran IPA Convex 2026 di ICE BSD pada Kamis (21/5/2026), sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiyani Dewi menjelaskan bahwa penjualan skema bisnis ke bisnis (B2B) dapat berjalan setelah spesifikasi produk teridentifikasi. Pengelompokan kualitas bahan bakar tersebut didasarkan pada cetane number (angka setana) tertentu.

"Kalau sudah identifikasi spek secara cepat, bisa menjual dengan harga B2B [Business-to-Business]. Off-taker-nya boleh masyarakat. Kan dispesifikasikan tadi, makanya kita akan sebut dia memang cocok masuk CN48, atau spek CN48," ungkap Eniya, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Langkah pemanfaatan ini juga didasarkan pada regulasi penanganan sampah perkotaan yang menetapkan tiga jenis produk akhir energi terbarukan. Payung hukum tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025.

"Yang pertama [produk] menghasilkan listrik, yang kedua menghasilkan bioenergi. Bioenergi itu mau RTF [Renewable Transport Fuel], biogas, biomassa, dan lain-lain yang dihasilkan dari organiklah," kata Eniya, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Kementerian ESDM membedakan hasil pengolahan limbah organik dengan limbah non-organik seperti plastik. Proses termal pirolisis difokuskan khusus untuk mengonversi material plastik menjadi bahan bakar cair minyak terbarukan.

"Satu lagi adalah BBMT. BBMT itu adalah bahan bakar minyak terbarukan. Dihasilkan dari pyrolisis plastic," tambah Eniya, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Saat ini, Ditjen EBTKE telah mengumpulkan sampel dari 12 lokasi yang sudah aktif memproduksi BBMT untuk diuji lebih lanjut. Pengujian pemetaan mutu tersebut dilakukan secara langsung melalui lembaga resmi pemerintah.

"Nah ini yang perlu saya klarifikasi, ini saya sampling semua. Pihak kami yang men-sampling sekarang. Pihak kami membawa sampling terus nanti diuji di Lemigas," ungkap Eniya, Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM.

Proyek strategis ini sebelumnya telah diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta pada Selasa (19/5/2026). Program kerja sama tersebut melibatkan lintas sektor mulai dari lembaga riset nasional, kementerian pendidikan, hingga unsur militer.

"Sebelumnya sampah diubah menjadi listrik, sekarang kita kerja sama lagi [sampah jadi BBM] dengan TNI, teknologinya dari BRIN dan Dikti," ujar Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Zulkifli Hasan mengonfirmasi sudah ada enam titik wilayah di Indonesia yang disiapkan untuk menjalankan proyek konversi ini. Beberapa daerah di antaranya mencakup kawasan hilir di Jawa hingga Bali.

"Ada enam [lokasi]. Ada di Bantargebang, ada di Bandung, ada di Bali," ucap Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Pemerintah membedakan karakteristik pasokan bahan baku antara proyek bahan bakar minyak ini dengan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Jika PSEL memanfaatkan sampah baru harian, maka proyek BBM pirolisis ini difungsikan untuk membersihkan timbunan sampah lama.

"Kita sudah punya sampah yang menggunung, setinggi gedung 16 lantai. seperti di Bantargebang. Itu sekarang yang pakai pirolisis. Tumpukan sampah yang tinggi-tinggi itu akan diolah menjadi BBM," ucap Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author