Elon Musk Bagikan Cara Otak Mengingat Informasi Lebih Baik

Share

Fungsi kognitif manusia sangat memengaruhi proses berpikir, kemampuan mengingat, pengaturan pikiran, tindakan, hingga cara memperhatikan lingkungan sekitar. Namun, dilansir dari Detik Health, kelupaan menaruh barang seperti kunci atau ponsel masih sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Pengusaha kaya dunia, Elon Musk, membagikan trik khusus agar otak dapat mengingat sesuatu secara lebih optimal. Menurutnya, seseorang harus memberikan makna tertentu atau mengaitkan informasi tersebut dengan kenangan yang tidak biasa.

Proses melupakan sebenarnya merupakan bagian alami dan bermanfaat dari cara kerja pikiran manusia untuk membersihkan informasi tidak penting. Jika manusia mengingat seluruh detail dengan sempurna, otak akan kesulitan mempelajari hal baru atau mengambil keputusan.

Elon Musk menyatakan bahwa kunci utama mengingat adalah dengan menyematkan relevansi pada informasi tersebut. Ketika informasi terhubung dengan hal bermakna, otak akan mengategorikannya sebagai hal penting sehingga tidak mudah hilang.

"Untuk mengingat sesuatu, Anda harus memberikan makna padanya. Katakan saja, mengapa itu relevan? Jika Anda bisa mengatakan mengapa itu relevan, Anda mungkin akan mengingatnya," kata Elon Musk dalam sebuah podcast, dikutip dari laman Times of India.

Otak manusia secara alami dirancang untuk mengingat alur cerita dan emosi jauh lebih baik daripada sekadar fakta acak. Pemberian makna dapat mengubah informasi yang membosankan menjadi sesuatu yang menarik bagi memori.

"Otak Anda pada dasarnya terus-menerus berusaha melupakan segala sesuatu sebisa mungkin, karena sulit untuk menyimpan ingatan. Sebagian besar hal yang kita lihat di sini tidak layak untuk diingat. Jadi agar otak Anda dapat mengingat sesuatu, Anda harus menetapkan relevansinya. Anda harus menjelaskan alasannya," kata Musk.

Penyimpanan ingatan juga menjadi lebih mudah saat seseorang menghubungkan informasi dengan hal-hal yang tidak biasa. Elon Musk menilai semakin aneh dan jelas asosiasi yang dibuat, maka hasil ingatan yang disimpan akan semakin baik.

Penjelasan Ilmiah Terkait Memori

Para ahli menjelaskan bahwa otak menyimpan data dengan lebih baik ketika terikat pada emosi atau visualisasi yang kuat. Bagian otak yang mengurus emosi dan visual ini membantu menciptakan struktur ingatan yang bertahan lebih lama.

Proses memberikan makna secara langsung mengaktifkan bagian-bagian otak tertentu agar informasi tersebut menonjol di antara jutaan stimulus harian. Hubungan saraf yang terbentuk akan menjadi lebih kuat melalui kenangan yang bermakna atau lucu.

Langkah Menjaga Kesehatan Otak Sejak Muda

Spesialis bedah saraf dr Dimas Rahman Setiawan, SpBS membagikan beberapa metode pencegahan untuk menghindari terjadinya penyusutan otak. Langkah-langkah ini disarankan untuk diterapkan sejak usia muda melalui aktivitas harian.

Pertama, masyarakat diimbau untuk selalu menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas positif. Hal ini bertujuan agar organ otak terus bekerja dan aktif berpikir, bahkan ketika seseorang telah memasuki usia tua.

"Kalau bisa memang bekerja, selalu beraktivitas, selalu disibukan dengan aktivitas, sehingga membuat orang pada usia degeneratif, usia tua itu terus berpikir dan berkonsentrasi dengan otaknya," ucap dr Dimas beberapa waktu lalu ketika berbincang dengan detikcom.

Kedua, kebiasaan bekerja dan berpikir sepanjang usia harus tetap dipertahankan. Anggapan salah bahwa lansia harus total beristirahat tanpa aktivitas justru mempercepat proses pengecilan volume otak karena organ tersebut jarang dilatih.

"Nah, tidak beraktivitas inilah yang akhirnya menyebabkan manusia tidak biasa berpikir, sehingga lama-kelamaan ototnya mulai menciut," katanya.

Ketiga, pemenuhan asupan nutrisi yang tepat bagi otak memegang peranan yang sangat krusial. Konsumsi makanan harian harus mengutamakan keseimbangan gizi dan bukan sekadar mengejar rasa kenyang semata.

"Jadi yang kita perhatikan saat ini di Indonesia kadang-kadang nutrisi tidak seimbang, yang penting kenyang. Jadi makan nasinya banyak banget, karbohidratnya banyak, proteinnya mungkin belum cukup," ujar dr Dimas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author