Fenomena El Nino Diproyeksi Bertahan hingga 2027 dan Ancam Chile
Fenomena iklim El Niño diproyeksikan akan terus berlangsung hingga musim gugur tahun 2027 dan memicu peningkatan suhu udara secara signifikan di Chile. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gelombang panas ekstrem serta meningkatkan risiko kebakaran hutan di wilayah tersebut.
Klimatolog dari Universidad de Santiago, Raúl Cordero, mengodekan peringatan mengenai durasi panjang dari fenomena alam ini. Perpanjangan durasi El Niño diperkirakan akan memicu dampak serius terhadap pola cuaca global, khususnya pada perubahan suhu dan distribusi curah hujan.
"El Niño… akan memanjang hingga setidaknya musim gugur 2027," kata Raúl Cordero, Klimatolog Universidad de Santiago.
Dampak utama dari bertahannya fenomena ini akan langsung dirasakan pada musim panas mendatang dengan lonjakan suhu udara yang tidak biasa. Peningkatan suhu ekstrem tersebut berpotensi mengulang rekor cuaca panas yang pernah melanda wilayah tengah Chile sebelumnya.
"El Niño mendorong termometer ke atas dan itu berarti musim panas mendatang akan menjadi sangat panas," ujar Raúl Cordero, Klimatolog Universidad de Santiago.
Sebagai perbandingan historis, Chile pernah mencatatkan rekor suhu ekstrem pada awal tahun 2024. Saat itu, wilayah pusat negara mengalami gelombang panas berkepanjangan dengan suhu udara yang sangat tinggi.
"Pada Februari 2024 kita mengalami gelombang panas paling intens yang pernah tercatat di wilayah tengah, dengan suhu melebihi 35 derajat di Santiago selama 5 hari berturut-turut," kata Raúl Cordero, Klimatolog Universidad de Santiago.
Selain ancaman suhu tinggi, tingginya temperatur udara juga memperbesar potensi munculnya bencana kebakaran hutan selama musim kering. Kondisi cuaca yang semakin panas membuat vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Ancaman ini diprediksi akan "memicu risiko timbulnya musim kebakaran yang sangat intens," ujar Raúl Cordero, Klimatolog Universidad de Santiago.
Selain kekeringan dan cuaca panas di area tengah, El Niño juga memicu ketidakstabilan cuaca di wilayah utara Chile, seperti Copiapó. Wilayah tersebut berisiko mengalami fenomena curah hujan yang tidak wajar dan berpotensi menimbulkan banjir.
"Curah hujan yang sangat, sangat tidak normal diperkirakan terjadi di wilayah Copiapó… peristiwa yang sangat tidak biasa yang sayangnya makin sering terjadi akibat El Niño," kata Raúl Cordero, Klimatolog Universidad de Santiago.
Pola curah hujan ekstrem di utara ini dinilai mirip dengan dampak yang ditimbulkan oleh fenomena "super Niño" pada tahun 2015 lalu. Perkembangan El Niño dalam beberapa bulan ke depan menjadi fokus pengawasan utama guna mengantisipasi ancaman cuaca ekstrem di Chile.