Ekonomi Vietnam Tumbuh 839 Persen di Tengah Lonjakan Defisit
Ekonomi Vietnam tumbuh sebesar 8,39 persen secara tahunan pada kuartal II-2026 di tengah pembengkakan defisit perdagangan yang mencapai rekor tertinggi pada Jumat (3/7/2026). Dilansir dari Detik Finance, produk domestik bruto (PDB) Vietnam periode April-Juni naik melampaui perkiraan kuartal sebelumnya sebesar 7,94 persen. Pusat manufaktur Asia Tenggara ini menargetkan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun melebihi 10 persen melalui sokongan pengeluaran infrastruktur.
Meski demikian, bayang-bayang konflik di Timur Tengah masih membayangi target tersebut.
Di sisi lain, tingkat inflasi kuartal II-2026 tercatat turun menjadi 4,69 persen dari 5,6 persen pada Mei. Pemerintah setempat sendiri menetapkan target inflasi tahunan sebesar 4,5 persen.
Aktivitas perdagangan internasional menunjukkan lonjakan ekspor Juni sebesar 28,1 persen menjadi US$ 50,79 miliar dibandingkan tahun lalu. Namun, nilai impor melonjak hingga 45,2 persen menjadi US$ 53,43 miliar.
Kondisi tersebut memicu defisit perdagangan bulanan sebesar US$ 2,64 miliar. Secara kumulatif, defisit perdagangan pada semester I-2026 membengkak hingga mencapai US$ 16,65 miliar. Angka ini berbalik dari periode yang sama tahun lalu yang mencatat surplus US$ 7,95 miliar.
Peningkatan nilai impor didorong oleh komoditas energi.
Volume impor minyak mentah semester pertama turun 14,2 persen, tetapi nilainya melonjak 17,7 persen. Sementara itu, impor bahan bakar olahan naik 9,6 persen secara volume dan melonjak 73,5 persen secara nilai. Data dari National Statistics Office of Vietnam (NSO) menunjukkan pelebaran defisit ini menekan cadangan devisa negara.
Posisi cadangan devisa Vietnam kini berada di bawah tingkat aman yang diusulkan Dana Moneter Internasional (IMF).
Meskipun perdagangan defisit, aktivitas domestik tetap kuat dengan produksi industri Juni meningkat 12,7 persen dan penjualan ritel naik 14,8 persen. Arus investasi asing selama enam bulan pertama juga naik 11,2 persen menjadi US$ 13 miliar.