Dirgayuza Setiawan Bantah Anggapan Presiden Prabowo Tidak Tahu Masalah

Share

Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan Dirgayuza Setiawan membantah anggapan publik yang menilai Presiden Prabowo Subianto tidak memahami persoalan riil di lapangan, Senin (8/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peluncuran buku 'Presiden Solusi' di Jakarta Selatan, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Dirgayuza menegaskan bahwa Kepala Negara sebenarnya sangat memahami situasi namun memilih untuk menjaga ketenangan publik.

"Saya tergelitik ya karena banyak para komentator di media sosial menyampaikan bahwa Bapak Presiden kita tidak mengerti masalah. Disampaikan Presiden kita berjarak dengan masalah atau dihambat untuk mengetahui masalah-masalah apa yang ada di lapangan," kata Dirgayuza, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan.

Menurut penjelasannya, penilaian negatif dari para komentator tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di dalam internal pemerintahan. Prabowo disebut memiliki prinsip kuat untuk tidak mengumbar hal buruk demi menghindari kekhawatiran di masyarakat.

"Kami melihat itu tidak benar. Yang benar adalah Bapak Presiden itu tidak berkenan bicara jelek tentang orang lain, beliau tidak berkenan membuat kekhawatiran di publik," lanjut Dirgayuza, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan.

Pembahasan mengenai berbagai persoalan krusial bangsa selalu dilakukan secara intensif oleh Presiden bersama para menteri kabinet. Kendati demikian, diskusi mendalam tersebut sengaja digelar secara tertutup dari jangkauan awak media.

"Oleh karena itu setiap kali mau bicara soal masalah, beliau meminta media untuk keluar ruangan," imbuh Dirgayuza, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan.

Kebijakan pengosongan ruang rapat dari jurnalis ini diterapkan secara konsisten dalam sejumlah agenda sidang kabinet. Media hanya diberikan akses peliputan pada sesi pembukaan rapat sebelum agenda inti yang sensitif dimulai.

"Dan ini terjadi di banyak rapat kabinet, yang terbuka misalkan rapat kabinet terbuka kami ada di situ sepanjang rapat kabinet, kami melihat Bapak Presiden membuka, media dapat meliput dan merekam, tapi ketika sudah mau masuk bicara yang nggak enak-nggak enak media diminta keluar," lanjut Dirgayuza, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan.

Dirgayuza mengakui bahwa prosedur komunikasi internal tersebut pada akhirnya memicu kesalahpahaman di ruang publik. Akibat ketertutupan proses diskusi, muncul opini keliru bahwa Presiden tidak menguasai dinamika masalah negara.

"Akhirnya terciptalah persepsi itu Presiden Prabowo tidak mengetahui masalah padahal yang kita bahas dan kita saksikan sehari-hari Bapak Presiden kita bicara masalah," ujar Dirgayuza, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author