Dokter Urologi Ungkap Dampak Menahan Kencing dan Kapasitas Kandung Kemih
Kebiasaan menahan buang air kecil sering dilakukan banyak orang karena berbagai alasan, mulai dari kesibukan kerja hingga perjalanan jauh. Meski terkesan sepele, aktivitas ini dapat memengaruhi kesehatan kandung kemih jika menjadi kebiasaan yang sering diulang.
Gangguan kontrol kandung kemih juga rentan terjadi seiring bertambahnya usia. Kondisi tersebut lebih banyak ditemukan pada ibu hamil serta pria lanjut usia yang memiliki gangguan prostat, seperti dikutip dari Detik Health.
Dokter spesialis urologi dari Advanced Urology Associates Singapura, Chong Weiliang, menjelaskan bahwa kapasitas penampungan urine setiap individu tidak sama. Secara umum, organ kandung kemih orang dewasa yang berada dalam kondisi sehat mampu memuat sekitar 300 hingga 500 mililiter urine.
Volume tersebut setara dengan ukuran 1 sampai 2 gelas air. Dorongan kuat untuk buang air kecil biasanya mulai muncul pada skala volume tersebut, bahkan beberapa orang sudah merasakannya saat isi urine mencapai 200 hingga 300 mililiter.
Kapasitas tersebut dapat meregang hingga 600 sampai 800 mililiter pada kasus-kasus tertentu. Namun, tubuh umumnya akan mulai memunculkan rasa tidak nyaman jika volume cairan melampaui batas angka tersebut.
"Banyak yang beranggapan pria memiliki kandung kemih lebih besar dibandingkan wanita. Menurut para ahli, kapasitas kandung kemih pria memang sedikit lebih besar karena ukuran tubuh yang umumnya lebih besar. Namun perbedaannya tidak terlalu signifikan," sorotnya dikutip dari CNA, Kamis (11/6/2026).
Proses penyimpanan dan pengeluaran urine pada pria juga dipengaruhi oleh ukuran uretra yang lebih panjang serta keberadaan kelenjar prostat. Tubuh orang yang sehat dan terhidrasi dengan baik memerlukan waktu sekitar 15 hingga 30 menit untuk mengubah air minum menjadi urine.
Ginjal memproduksi urine secara konstan melalui penyaringan darah yang berlangsung terus-menerus. Oleh karena itu, urine bukan hasil dari aliran langsung air minum menuju kandung kemih.
Proses pembentukan urine dapat melambat hingga memakan waktu 30 menit sampai 2 jam saat tubuh mengalami dehidrasi. Fenomena ini terjadi karena tubuh berusaha mempertahankan cadangan cairan untuk sel dan jaringan.
"Saat kekurangan cairan, tubuh akan berusaha mempertahankan cadangan air untuk memenuhi kebutuhan sel dan jaringan. Akibatnya, produksi urine menjadi lebih lambat," jelas dr Chong.
Frekuensi berkemih juga dipengaruhi oleh kondisi fisik tertentu. Cairan tubuh cenderung menumpuk di area kaki saat seseorang berdiri atau duduk terlalu lama, yang memicu pembengkakan di malam hari.
Cairan tersebut akan mengalir kembali ke pembuluh darah saat posisi tubuh berbaring, sehingga volume darah meningkat dan merangsang ginjal memproduksi urine lebih banyak. Situasi serupa kerap terjadi di dalam kabin pesawat akibat suhu dingin dan kelembapan yang rendah.
Udara kabin yang kering dapat memicu dehidrasi ringan yang menghasilkan urine lebih pekat. Konsentrasi urine yang tinggi ini berisiko mengiritasi kandung kemih sehingga menstimulasi rasa ingin kencing.
Menahan urine terlalu lama dan berulang-ulang berisiko memicu overdistensi, yaitu kondisi saat kandung kemih meregang melebihi batas normalnya.
"Ketika kondisi ini terjadi, otot kandung kemih dapat melemah sehingga tidak mampu mengosongkan urine secara sempurna," tandas dia.
Sisa urine yang tertahan di dalam kandung kemih berpotensi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Dampak lainnya adalah penurunan sensitivitas organ, sehingga seseorang tidak lagi peka terhadap dorongan buang air kecil sejak dini.
Meskipun demikian, kasus kandung kemih pecah akibat menahan kencing merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi menurut para ahli.
"Kasus pecahnya kandung kemih umumnya berkaitan dengan trauma berat, keracunan alkohol, sumbatan saluran kemih, atau retensi urine yang parah, bukan karena kebiasaan menahan kencing sesekali dalam aktivitas sehari-hari," jelas dia.
Faktor risiko pecahnya kandung kemih lebih tinggi pada orang dengan gangguan kejiwaan yang kehilangan sensasi penuh pada organ tersebut. Pasien yang pernah menjalani operasi atau terapi radiasi di area terkait juga memiliki dinding kandung kemih yang lebih lemah.
Frekuensi buang air kecil yang normal bagi orang dewasa sehat adalah 4 sampai 8 kali sehari, atau setiap 3 hingga 4 jam saat terjaga. Pemeriksaan medis diperlukan jika seseorang harus terbangun lebih dari sekali setiap malam hingga mengganggu kualitas hidup.
Para ahli tidak menetapkan batasan waktu pasti mengenai durasi menahan kencing yang aman. Langkah terbaik adalah langsung merespons dorongan berkemih dan tidak membiasakan diri menundanya.
Dokter menyarankan beberapa pola hidup sehat untuk menjaga fungsi organ kemih, antara lain mengosongkan kandung kemih setelah bangun tidur dan sebelum tidur. Menghindari penundaan kencing serta menjaga kecukupan cairan harian juga sangat penting.
Sebaliknya, kebiasaan terlalu sering pergi ke toilet hanya untuk berjaga-jaga justru tidak disarankan. Kebiasaan tersebut dapat menurunkan kapasitas fungsional kandung kemih seiring berjalannya waktu.
Terdapat beberapa gejala klinis yang memerlukan perhatian medis segera karena mengindikasikan gangguan saluran kemih. Gejala tersebut meliputi rasa nyeri atau terbakar saat berkemih, munculnya darah dalam urine, serta infeksi saluran kemih yang terjadi berulang.
Tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai adalah perubahan pola berkemih secara mendadak, inkontinensia urine, kesulitan mengeluarkan urine, serta aliran urine yang melemah. Rasa tidak tuntas setelah berkemih, frekuensi kencing berlebih tanpa sebab, dan sering terbangun di malam hari juga memerlukan pemeriksaan.
Gejala nyeri perut bagian bawah, rasa penuh akibat pembesaran kandung kemih, serta demam yang disertai keluhan saluran kemih harus segera dikonsultasikan. Keberadaan darah dalam urine wajib diperiksakan meski hanya terjadi sekali tanpa rasa sakit, khususnya bagi perokok dan lansia.
"Selain itu, berbagai keluhan saluran kemih yang menetap tidak boleh dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Banyak gangguan kandung kemih dan saluran kemih yang dapat ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini," pungkasnya.