Israel Serang Pangkalan Udara Suriah Hingga Picu Kecaman Negara Arab

Share

Eskalasi militer kembali pecah di kawasan Timur Tengah setelah angkatan udara Israel menggempur Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Provinsi Idlib, Suriah. Operasi militer ini menyasar landasan pacu serta fasilitas penyimpanan, sekaligus memicu gelombang kecaman luas dari negara-negara Arab dan Amerika Serikat.

Aksi gempuran tersebut langsung menuai reaksi keras dari negara-negara tetangga. Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk keras serangan yang dinilai melanggar hukum internasional dan kedaulatan Suriah. Nada serupa disampaikan Pemerintah Uni Emirat Arab yang menyebut aksi militer ini melanggar Perjanjian Penarikan Diri tahun 1974.

Kementerian Luar Negeri Qatar turut menegaskan kecamannya atas tindakan memaksakan kehendak melalui kekerasan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuwait dan Bahrain mendesak Dewan Keamanan PBB mengambil langkah nyata. Dari Yordania, Menteri Luar Negeri Ayman Safadi langsung menghubungi Menteri Luar Negeri Suriah Asaad Al Shaibani untuk menyampaikan dukungan penuh.

Di tengah kecaman regional, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru memberikan pengakuan tersirat atas serangan udara di dekat Aleppo tersebut. Netanyahu mengklaim langkah militer itu diambil guna mencegah pengerahan pasukan Turki yang dinilai mengancam keamanan wilayahnya.

"Kami tidak akan mentoleransi upaya militer Turki untuk memperkuat posisi mereka ke arah selatan, karena itu mengancam kami," kata PM Israel Benjamin Netanyahu.

Netanyahu mengklaim pihaknya telah memberikan peringatan awal kepada Ankara sebelum melancarkan aksi pengeboman.

"Tampaknya mereka tidak mendengarnya, jadi kami memastikan mereka memahaminya dengan lebih jelas," tegas PM Israel Benjamin Netanyahu.

Pernyataan bernada ancaman juga dilontarkan oleh jajaran kementerian pertahanan Israel. Menhan Israel Israel Katz secara terbuka menuding Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyeret negaranya ke dalam kawasan konflik.

"Israel tidak akan membiarkan pihak mana pun mengancam keamanannya," tegas Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.

Katz meminta pemimpin Turki tersebut untuk tidak menguji ketahanan militer Tel Aviv.

"Lebih baik bagi Erdogan untuk terus menyampaikan pidato kosong dan penuh delusi yang menentang Israel di parlemen Turki, daripada menguji tekad Israel untuk membela diri," sebut Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.

Menanggapi tuduhan tersebut, pihak Ankara membantah keras keberadaan personel militernya di lokasi pengeboman saat serangan terjadi. Seorang pejabat Kementerian Pertahanan Turki menegaskan tidak ada pengerahan pasukan di pangkalan tersebut. Kementerian Luar Negeri Turki turut mengutuk aksi unilateral tersebut dan mendesak komunitas internasional bertindak.

"Untuk melegitimasi serangan udara ilegal Israel yang menargetkan kedaulatan dan integritas teritorial Suriah," tegas Kementerian Luar Negeri Turki.

Kritik tajam juga datang dari sekutu utama Israel, Amerika Serikat. Utusan Khusus AS Tom Barrack menilai operasi militer tersebut tidak memiliki urgensi yang jelas.

"Sebuah eskalasi yang tidak perlu," papar Utusan Khusus AS Tom Barrack.

Ketegangan ini terjadi di tengah dinamika politik kawasan, termasuk terbentuknya kesepakatan pertahanan Pakta Mekkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Di sisi lain, pakar politik Universitas Tel Aviv Eyal Zisser menilai pemerintah Israel saat ini cenderung mengutamakan pendekatan konfrontatif terhadap negara tetangga.

"Pemerintah ini percaya bahwa hal terbaik yang harus dilakukan adalah selalu memukul tetanggamu," kata Pakar Politik Universitas Tel Aviv Eyal Zisser.

Meskipun demikian, Zisser memperkirakan bentrokan militer secara langsung antara Israel dan Turki kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat karena masih kuatnya pengaruh diplomasi AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author