Kadar Kolesterol Normal Belum Tentu Bebas Risiko Serangan Jantung

Share

Hasil pemeriksaan profil lipid yang menunjukkan kadar kolesterol normal sering kali memberikan rasa aman. Padahal, kondisi tersebut belum menjamin otot jantung sepenuhnya terbebas dari ancaman bahaya.

Serangan jantung dapat terjadi secara mendadak ketika aliran darah menuju otot jantung tersumbat secara tiba-tiba. Kolesterol hanyalah salah satu indikator, sementara faktor risiko lain tetap mengintai.

American Heart Association menyebutkan bahwa pertambahan usia, peradangan, serta sindrom metabolik turut memengaruhi potensi terjadinya gangguan kardiovaskular. Hal ini seperti dilansir dari Detik Health.

Pakar umur panjang Dr Vasilly Eliopoulus mengungkapkan fakta mengenai distribusi penderita gangguan ini melalui unggahan media sosialnya pada 30 Oktober 2025.

"Hampir 60 persen dari semua serangan jantung terjadi pada orang yang kadar kolesterolnya normal," kata Dr Vasilly Eliopoulus.

Kondisi ini dapat menimpa siapa saja tanpa memandang latar belakang profesi maupun tingkat kebugaran fisik seseorang.

"Para CEO, atlet profesional, investor, dan orang-orang yang secara umum tampak sehat berdasarkan hasil pemeriksaan pun masih dapat mengalami serangan jantung," tambahnya.

Pemeriksaan darah standar umumnya fokus mengukur kolesterol LDL, HDL, serta total kolesterol. Kendati memberikan gambaran dasar, angka-angka tersebut belum merefleksikan kondisi menyeluruh di dalam pembuluh darah.

Seseorang bisa saja memiliki tingkat LDL ideal, tetapi tetap mengalami penumpukan plak berbahaya yang menyumbat aliran darah. Dr Eliopoulus mengibaratkan pengendalian LDL semata seperti memantau permukaan laut tanpa mengetahui bahaya di dalamnya.

Dinding dalam pembuluh darah sangat sensitif terhadap lonjakan gula darah, paparan asap rokok, dan proses peradangan. Hipertensi yang dibiarkan berlarut-larut berpotensi merusak dinding arteri, sedangkan resistensi insulin serta diabetes mempercepat terjadinya aterosklerosis.

Pemeriksaan kesehatan kardiovaskular membutuhkan pemantauan menyeluruh secara berkala. Tekanan darah, kadar gula darah, tingkat aktivitas fisik, berat badan, pola tidur, hingga faktor genetik keluarga harus terus diperhatikan.

Penerapan pola makan sehat berkelanjutan lebih efektif daripada mengikuti tren diet sesaat. Konsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta protein berkualitas tinggi perlu diprioritaskan, sembari membatasi lemak jenuh, gula, dan natrium.

Aktivitas fisik teratur berperan penting dalam menjaga kebugaran kardiovaskular, tekanan darah, dan kesehatan metabolisme tubuh. Selain itu, porsi tidur malam ideal selama 7 hingga 9 jam bagi orang dewasa wajib dipenuhi secara konsisten.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author